Kisah Perjalanan Sejarah Dan Pergerakan Nasionalisme Turki

Turki pada awalnya dikenal sebagai kerajaan yang memiliki wilayah yang sangat luas dikenal sebagai imperium Turki. Puncak kebesaran Turki pada masa pemerintahan Sulaiman I (1520-1566). Daerah jajahan Turki meliputi seluruh Asia Kecil dan Timur Tengah sampai Persia, seluruh Balkan dan Rusia Selatan, seluruh pantai utara Afrika dari Somalia sampai Aljazair (Isawati, 2018: 97).

Namun mulai tahun 1575, Kerajaan Turki mengalami kemunduran dan pada abad ke-19 Turki dijuluki sebagai The Sick Man of Europe. Kondisi tersebut memicu munculnya gerakan nasionalisme Turki yang dilatarbelakangi oleh:

  1. Tidak adanya sultan yang kuat sehingga kekuasaan Turki Usmani semakin merosot
  2. Pengaruh dari Revolusi Prancis dengan semboyannya liberte, egalite, dan fraternite.
  3. Lahirnya golongan terpelajar yang mengenal paham modern yakni liberalisme, nasionalisme, dan demokrasi.
  4. Bangsa Barat semakin gencar untuk merebut daerah-daerah jajahan Turki dan siap menghancurkan Turki (Anwar, 1989: 124 dalam Printina, 2018: 22).

Pasca munculnya imperialisme dan dibukanya Terusan Suez, maka negara-negara Eropa ingin memperebutkan daerah jajahan Turki dan menunggu jatuhnya Turki. Halini memicu timbulnya masalah Balkan yang berkisar tentang status dari Kerajaan Turki beserta daerah-daerah bekas jajahannya.

Keruntuhan Turki sangat dinantikan oleh Rusia, namun Inggris tidak ingin Turki runtuh sebab nantinya Rusia akan dapat mencapai Laut Tengah. Austria dan Prancis juga bersikap sama dengan Inggris dan tidak ingin Rusia masuk ke wilayah Balkan.

Demikianlah daerah jajahan Turki menjadi perebutan antar bangsa Eropa. Inggris dan Prancis memperebutkan daerah Mesir, sedangkan Rusia dan Austria memperebutkan daerah Balkan (Isawati, 2018: 98).

Baca juga: Masa kebangkitan Turki

Peta Turki
Peta Turki

Munculnya Gerakan Turki Muda (1896-1918)

Gerakan Turki Muda muncul pada tahun 1896 yang didorong oleh keprihatinan akan nasib Turki dan perasaan cemas dengan kondisi pemerintahan Turki. Gerakan ini didirikan oleh orang-orang Turki progresif yang ada di luar negeri akibat tindasan dari Sultan Abdul Hamid II. Tujuan mereka membentuk organisasi ini:

  1. Mencegah keruntuhan Turki melalui modernisasi negara
  2. mengembangkan nasionalisme Turki
  3. menyatukan kebangsaan Turki sebagai satu kesatua yang bulat yakni satu negara, satu bangsa dan satu bahasa (Noor, 2018: 295-296).

Sifat gerakan Turki Muda ini sangat revolusioner. Pemberontakan atas nama Turki Muda dilakukan oleh Niazi Bey pada tahun 1908. Pemimpin lainnya dari Turki Muda yakni Enver Bey, yang merupakan pemimpin di kalangan angkata perang. Sultan Hamid II sangat dibenci oleh rakyatnya, ia merupakan seorang dictator dan berusaha memanfaat situasi dengan licik.

Ia membekukan UUD yang telah disahkan dan menindas golongan yang menuntut diberlakukannya kembali UUD tersebut. Para pejuang kebebasan yang ditindas oleh Sultan memilih untuk pergi ke Eropa. Dalam kekacauan politik dalam negeri, pada tahun 1877 meletuslah Perang Rusia dengan Turki yang berakibat terhadap pendudukan Rusia di beberapa daerah Turi di Eropa dan Antoli.

Karena peritiwa inilah mendorong para pejuang yang berada di luar negeri untuk membentuk kelompok Turki Muda atau Turki Al-Fatah. Para pejuang kemudian menulis,berpidato dan berusaha agar ide-idenya sampai ke telinga pihak tentara Turki. Agar tentara tersebut dapat menekan Sultan untuk memberlakukan kembali UUD.

Utusan yang dikirim Sultan Hamid II untuk menumpas gerakan Turki Muda berbalik untuk bergabung dengan gerakan tersebut. Kemudian Sultan melakukan tindakan yang bertentangan dengan keinginannya. Melalui Pan Islamisme, ia berpura-pura mencintai ishlah dan perbaikan untuk menarik simpati masyarakat dan mengatakan bahwa melalui Pan Islamisme dapat mengusir kolonial Sekutu dari Turki.

Namun kaum permberontak terus berusaha melawan dan menuntut diberlakukannya UUD.Kemenangan akhirnya berada di pihak gerakan Turki Muda dan Sultan Hamid II tidak berhasil mengembalkan pemerintahan monarki absolut karena berhasil dipatahkan oleh Mahmud Shevket Pasha. Sehingga Sultan Hamid II turun tahta. Coup d’etat yang dilakukan oleh gerakan Turki Muda berhasil menggulingkan kekuasaan Sultan yang berkuasa karena tidak adanya Sultan yang cakap dalam pemerintahan.

Keterlibatan Turki pada Perang Dunia I

Pemimpin dari Turki Muda pada masa ini dikenal sebagai tiga serangkai yakni Enver Bey, Talaat, dan Jamal. Mereka berpihak kepada Jerman karena membenci Rusia yang selalu mengancam Turki. Sehingga ketika meletusnya Perang Dunia I, Turki membantu Jerman yang membuat Sekutu mneyatakan perang dengan Turki.

Penyerangan Sekutu terhadap Turki dilakukan di daerah Dardanella, namun karena ketatnya pengawalan yang dilakukan oleh Mustafa Kemal, Sekutu gagal menerobos benteng pertahanan Turki dan setiap serangannya dapat dipatahkan.

Peperangan besar bangsa Turki di kawasan Timur Tengah adalah mealawan Inggris dan Prancis.Inggris mendapat bantuan bangsa Arab dan memperoleh kemenangan, lalu pada tanggal30 Oktober 1918 terjadilah gencatan senjata. Dapat dikatakan dalam Perang Dunia I, pihak Turki mengalami kekalahan.

Kemenangan berada di pihak Sekutu yang akhirnya dapat menguasai wilayah Turki. Pada tahun 1919, Rusia berhasil menguasai sebagian wilayah Turki yang terletak di sebelah timur Laut Hitam, sedangkan Kota Azmir berhasil dikuasai oleh Yunani.

Selanjutnya, pada tanggal 20 Agustus 1920 diadakan perjanjian Serves antara pihak Turki yang diwakilkan oleh Sultan Muhammad VI. Melalui perjanjian ini, Perdana Menteri Farid Pasha dipaksa untuk menerima isi perjanjian tersebut, antara lain:

  1. Daerah Turki dipersempit dan tersisa Konstantinopel, Anatoli dan sekitarnya
  2. Smyrna dan daeah Thracia diberikan kepada Yunani
  3. Bosporus, Marmora dan Dardanella di internasionalisir
  4. Armenia menjadi negara yang merdeka.

Gerakan Turki Muda dengan semangat kebangsaan yang tinggi terus berupaya melakukan rongrongan, baik terhadap pihak Sekutu yang telah mengkotak-kotakkan daerah Turki tetapi juga berjuang melawan kemunafikan Sultan untuk memperbaiki kondisi pemerintahannya (Soebantardjo, 1954).

Akibat adanya Perjanjian Sevres ini muncul tokoh Mustafa Kemal Pasha dikenal sebagai “The Strong Man” yang tampil karena menganggap Perjanjian Sevres sangat menyudutkan kebesaran Turki.

Ia menyadari bahwa Turki terancam mengalami keruntuhan karena negaranya terkotak-kotak yakni pembentukan negara Armenia dan dipecah-pecahnya wilayah Tuki menjadi beberapa bagian (Isawati, 99). Pada awalnya Mustafa Kemal Pasha merupakan panglima besar Kesultanan Turki yang diutus untuk memadamkan pemberontakan di Anatoli yang menentang kedudukan Yunani, namun ia memilih berbalik untuk bergabung dengan kaum pemberontak. Kemudian pada tanggal 4 September 1919 diadakan Kongres Nasional Turki di Sivas yang memprotes pendudukan Turki oleh Sekutu dan mengeluarkan pernyataan:

  1. Mempertahankan Turki sebagai kesatuan yang bulan dengan menolak dipecah-pecahnya Turki.
  2. Menolak pendudukan Turki oleh Sekutu
  3. Menolak pembentukan negara Armenia (Noor, 2018: 297)

Kaum nasionalis yang dipimpin oleh Mustafa Kemal Pasha semakin menanjak dan berpengaruh, baik dalam pemerintahan maupun di kalangan rakyat. Pemberontakan kaum nasionalis di Anatoli melawan kekuatan Eropa menuntut supaya pemerintah mengembalikan keutuhan Turki.

Pada dasarnya,pemerintah Turki berkenan untuk memenuhi tuntutan tersebut, namun pihak Sekutu menolak. Tindakan yang diambil oleh Sekutu untuk menghadapi kaum nasionalis, Sekutu menduduki Konstantinopel dan membubarkan parlemen Turki.

Kemudian Kemal Pasha mendirikan Parlemen Turki sementara yang terpisah dari pemerintahan di KOnstantinopel dan bertempat di Ankara. Selain menolak isi dari perjanjian Sevres, kaum nasionalis juga tidak mau mengakui Sultan Muhammad VI sebagai kepala negara.

Aksi militer terus dilancarkan oleh pasukan Mustafa Kemal Pasha dan berhasil memenagkan pertempuran di In Okey pada tahun 1921 (Noor, 2018: 300). Pasca kemenangan ini, maka pada bulan Januari 1921 diadakan Perjanjian London yang berisi pengembalian Kota Azmir dan Anatoli kepada Turki.

Hal ini menyulut kemarahan di pihak Yunani dan menolak isi perjanjian tersebut dan memutuskan untuk berperang melawan Turki sebagai tindakan yang lebih baik dibandingkan dengan kehilangan Azmir dan Anatoli.

Tentara Yunani kemudian bergerak ke Ankara untuk mendesak Kemal Pasha agar mau mengakui Perjanjian Sevres, namun gagal. Bahkan daerah Smyrna yang menurut Perjanjian Sevres diserahkan kepada Yunani, berhasil direbut kembali oleh Turki (Iswati, 2018: 99).

Peperangan kedua antara Turki dan Yunani terjadi pada Maret 1921 dan berakhir dengan kekalahan di pihak Yunani pada April 1921. Ambisi YUnani untuk balas dendam dapar diredam oleh semangat pantang menyerah dari pasukan Turki. Pada bulan Agustus hingga pertengahan September 1921,tentara Yunani berjumlah sekitar 200.000 dapat ditumpas oleh Turki dalam pertempuran Sakaria (Noor, 2018: 301). Melalui keberhasilannya, Kemal Pasha mendapatgelar “Al Gahz”.

Setelah beberapa kali peperangan, kemudian diadakan pertemuan antara Sekutu dan kaum nasionalis dibawah pimpinan Mustafa Kemal Pasha, kemudian terjadilah Konferensi Mudania pada tanggal 3 Oktober 1922. Kaum nasionalis diwakilkan oleh Ismet Psha atau Ismet Inonti, hasil dari konferensi ini adalah:

  1. Thracia-Timur dikembalikan kepada Turki
  2. Adrianopel kembali kepada Turki
  3. Netralisasi Dardanella, Marmora, Bosporus di bawa pengawasan internasional (Noor, 2018: 298).

Pasca diadakannya Konferensi Mudania dan pihak Kemal Pasha tetpa berusaha mempertahankan Turki, pihak Sekutu akhirnya membatalkan isi Perjanjian Sevres dan digantikan oleh Perjanjian Lausanne atau Lusan pada tanggal 24 Juli 1923 yang berisi:

  • Daerah sekitar Konstantinopel dikembalikan kepada Turki
  • Turki melepaskan semua daerah yang penduduknya bukan Turki
  • Selat Bosporus, Dardanela dan Marmora terbuka untuk semua kapal
  • Turki tidak perlu membayar rampasan perang (Isawati, 2018: 99).

Turki kemudian mengadakan reorganisasi dalam negeri dengan menghapus jabatan sultan dan khalifah. Sultan Muhammad VI diturunkan dari tahta, Turki resmi berubah menjadi Republik pada tanggal 29 Oktober 1923 sekaligus pengumuman proklamasi Republik Turki dengan Mustafa Kemal Pasha sebagai presiden pertama dan Ismet Pasha (Inonti) sebagai Perdana Menteri. Sultan tidak lagi memilikikekuasaan terhadap negaar melainkan hanya sebagai kepala keagamaan.

DAFTAR PUSTAKA

  • Noor, Y. 2018 Sejarah Timur tengah (Asia Barat Daya). Yogyakarta: Ombak
  • Printina,B,I. 2019. Sejarah Asia Barat Modern Dari Nasionalisme Sampai Perang Teluk Ke-III. Sanata Dharma University Press
  • Rahman, F .2018. Sejarah Perkembangan Islam di Turki. Tasamuh: Jurnal Studi Islam. 10 (2)

Biodata Penulis

NamaWinda Ramadhani Suhandoko
Winda Ramadhani Suhandoko
E-mail[email protected]
AlamatJln. Slamet Riyadi Kec.Patrang Kab.Jember Prov.Jawa Timur
StatusMahasiswa aktif, Prodi Pendidikan Sejarah Universitas Jember

Baca juga:

Penulis: Winda Ramadhani Suhandoko
Editor: Supriyadi Pro

Pos terkait