People’s Republic Of China/RRC (Mao Zedong)

Bendera Cina

Mao Tse-tung (Mao Zedong) dilahirkan pada tanggal 26 Desember 1893 di desa Shao-shan, Propinsi Hunan, China. Tse berarti bersinar dan tung berarti timur. Jadi namanya berarti “bersinar di timur”. Ia terlahir dari keluarga petani miskin sehingga sejak kecil Mao harus bekerja keras dan hidup prihatin. Namun di kemudian hari keadaan ekonomi keluarganya meningkat sehingga ia dapat hidup lebih baik.

Ayahnya seorang petani yang miskin karena saat muda ia tertimpa oleh hutang-hutang yang sangat banyak. Ketika kecil Mao dikirim untuk belajar di sekolah dasar tradisional. Pada usia 13 tahun ayahnya menyuruhnya berhenti bersekolah dan menyuruhnya bekerja di ladang. Mao memberontak dan bertekad ingin menyelesaikan pendidikannya sehingga ia nekad pergi dari rumah dan melanjutkan pendidikannya di tempat lain.

Pada bulan Juni 1918 Mao lulus dari Akademi Pelatihan Guru dan bekerja sebagai pustakawan. Pada usia 27 tahun Mao menjadi seorang komunis dan mencapai puncak kekuasaan dalam partai Komunis China setelah memimpin Long March sepanjang 10.000 km pada bulan Oktober 1934.

Perkembangan komunisme di China berawal dari studi Marxisme di Universitas Nasional Beijing. Anggotanya adalah para mahasiswa termasuk seorang asisten pustakawan yang kelak menjadi pemimpin terbesar China. Kelompok studi ini yang kemudian menjadi cikal bakal Partai Komunis China yang berdiri pada tanggal 1 Juli 1921.

PKC bekerja sama dengan Kuomintang untuk memperluas pengaruhnya dengan mengambil keuntungan dari revolusi nasional. PKC sangat antusias meluncurkan revolusi yang didukung oleh Soviet dan menduduki kekuasaan. PKC membelot dan melakukan pemberontakan pemberontakan di daerah pedesaan dalam usaha meraih kekuasaan.

Pada tanggal 1 Agustus 1927 komunis melalui Tentara Pembebasan Rakyat (TPR) di bawah pimpinan Zhou Enlai dan Zhu De mengadakan perebutan kekuasaan di Nanchang yang berhasil digagalkan Kuomintang. Sisa-sisa PKC mundur ke daerah-daerah yang tidak mudah diakses dan selanjutnya bergerilya di pegunungan termasuk Mao Tse Tung, Mereka mengundurkan diri ke daerah pedesaan di perbatasan Propinsi Hunan-Jiangsi. Pada masa ini fase radikal revolusi komunis China dimulai.

Pemimpin-pemimpin revolusi tidak mampu mendirikan suatu pemerintahan yang kompak dan stabil, dan berlangsung perang saudara dalam waktu yang lama, sampai dengan tahun 1949. Pemikiran Mao sering disebut sebagai Maoisme. Mao sebenarnya bukan seorang pemikir yang orisinil.

Gagasan-gagasannya berdasarkan pemikir-pemikir sosialisme lain seperti Karl Marx, Friederich Engels, Lenin dan Stalin yang disesuaikannya dengan situasi objektif negara China dan dipadukan dengan pengetahuan intelektual dan pengalaman-pengalaman perjuangan revolusinya sehingga menjadi suatu konsep pemikiran yang sangat pragmatis dan berlaku luwes di China. Pemikiran Marxis Mao inilah yang selanjutnya disebut sebagai Maoisme. (Meisner, 1998:45).

Berdirinya Republik Rakyat China (Zhanghua Renmin Gongheguo)

Pada tanggal 1 Oktober 1949, Mao Zedong menyadari ada kesempatan untuk mengusir pasukan Jiang dari daratan China, ia kemudian langsung mengumumkan berdirinya Republik Rakyat China, dengan ia sendiri sebagai ketuanya dan dibantu 6 wakil, yaitu istri Dr. Sun Yat Sen (Song Qingling); Zhu De; Li Qishen; Zhang Lan; Liu Shaoqi; dan Gao Gang.

Jenderal Zhu De juga menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Tentara Republik Rakyat China. Beijing dinyatakan sebagai ibu kota Republik Rakyat China yang baru ini. Pemerintah Mao Zedong lalu menjalin hubungan dengan Uni Soviet, sehingga malam harinya pemerintah Uni Soviet menyatakan pengakuannya bagi Republik Rakyat China serta memutuskan hubungan diplomatik dengan pemerintah Jiang. (Taniputera, 2013 : 580).

Pemerintah nasionalis segera terusir kembali dari Kanton pada tanggal 14 Oktober 1949 dan terpaksa pindah ke Chongqing. Ini pun tidak berlangsung lama, karena pada tanggal 28 November 1949, Tentara Merah berhasil menguasainya.

Pemerintahan Jiang lalu melarikan diri ke Tibet yang terletak di Pulau Formosa (Taiwan), dimana pada tanggal 1 Maret 1950, Jiang memangku kembali jabatannya sebagai presiden. Menyerahnya Lu Han (Gubernur Yunnan) pada pihak komunis, menjadikan pemerintahan nasionalis tidak memiliki wilayah lagi di daratan China. Berikutnya bulan April 1950, menyusul Hainan yang jatuh di tangan komunis.

Negara-negara satelit Uni Soviet ikut menyatakan pengakuannya bagi Republik Rakyat China. India menyatakan pengakuannya pada tanggal 30 Desember 1949, yang ini berarti merupakan Negara di luar blok Uni Soviet pertama yang mengakui pemerintahan Mao.

Kemudian disusul Inggris yang memberikan pengakuannya kepada Republik Rakyat China pada tanggal 6 Januari 1950, ini berarti merupakan Negara demokratis barat pertama yang mengakui hubungan dengan pemerintahan komunis yang baru itu. Hubungan dengan Uni Soviet semakin erat dengan diundangnya Mao ke Moskow pada tanggal 15 Februari 1950 untuk membicarakan persahabatan diantara kedua Negara. Pada kesempatan tersebut,

Uni Soviet menjanjikan bantuan dalam bentuk pinjaman keuangan serta transfer teknologi. Sejumlah 20.000 pemuda Tionghoa dikirim ke Uni Soviet untuk menuntut ilmu, dan sebaliknya Uni Soviet mengirim 10.000 tenaga ahlinya dalam bidang teknik ke China.

Masa Awal Republik Rakyat China (RRC)

Dengan kemenangan komunis, China kembali memiliki pemerintahan pusat yang kuat. Tugas berat yang masih harus dijalani adalah membangun kembali China yang hancur akibat penjajahan Jepang, serta perang saudara. Agar hal itu terlaksana, pemerintahan yang baru berdaya upaya menjaga kestabilan sosial dan ekonomi.

Mereka berupaya memberikan lebih banyak kekuasaan pada petani dan buruh, dan sebaliknya memangkas kekuasaan kaum pemilik modal tuan tanah, kapitalis, intelektual, dan orang asing dalam benak rakyat, ditanamkan ide-ide bahwa perjuangan, revolusi, dan perubahan adalah sesuatu yang baik, sedangkan tradisi serta tata cara lama adalah buruk dan harus dibuang.

Buku dan surat kabar mulai dikendalikan serta disensor ketat oleh pemerintah. Meski demikian, dilakukan modernisasi terhadap peralatan industri, kereta api, sekolah, rumah sakit, bendungan, serta fasilitas umum lainnya. Singkatnya, partai komunis berjuang melakukan perubahan drastic pada tata cara kehidupan masyarakat yang mencapai puncaknya pada revolusi kebudayaan pada tahun 1966.

Organisasi politik Republik Rakyat China yang baru itu meniru Uni Soviet, tetapi berbeda dengan Uni Soviet yang menerapkan “kediktatoran proletariat”, China menggunakan sistem “kediktatoran demokrasi rakyat-rakyat”, dimana para petani kaya dan rakyat bersatu membentuk front bersama beberapa jabatan tinggi diserahkan pada orang non-komunis demi memberikan kesan bahwa pemerintahan yang baru dapat mewakili semua golongan.

Meskipun demikian, kekuasaan tertinggi tetap berada ditangan partai komunis China. Puncak pimpinan komunis dipegang oleh beberapa orang seperti Mao Zedong, Liu Shaoqi, Zhou Enlai, dan Chen Yun, serta Deng Xiaoping. Mereka sepakat mengangkat Mao sebagai pimpinan tertinggi. Tidak lama kemudian fotc Mao mulai menghiasi gedung-gedung pemerintah.

Restrukturisasi dalam bidang ekonomi dilakukan dengan mengendalikan peredaran uang perbankan, serta memberikan kredit. Dalam waktu setahun, inflasi berhasil dikendalikan. Demi mencapai kestabilan dalam bidang keuangan, pada bulan Mei 1949, pemerintah mengeluarkan mata uang baru yang disebut Renminpiao serta melarang penggunaan mata uang asing. Pemerintah lalu menguasai industri-industri kunci yang sebelumnya telah dibangun pemerintah nasionalis

Kini pemerintah mengalihkan perhatiannya pada para pemilik modal yang tidak bersedia diajak bekerjasama. Mereka menghembuskan propaganda bahwa pemilik modal itu telah melakukan penyuapan, penggelapan pajak, atau mencuri milik negara. Pada bulan April 1952, 70.000 pengusaha dari Shanghai menjadi sasaran propaganda itu dan dicela habis-habisan di depan umum.

Kaum pengusaha dan pemilik modal mengalami penyitaan hak milik mereka. Sementara itu dalam bidang agrarian, sesuai dengan apa yang dipropagandakan kaum komunis dahulu, tanah mulai dibagi-bagikan kepada rakyat.

Masyarakat agraris China dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu sebagai berikut:

  1. Tuan tanah (Landlords), yakni mereka yang memiliki tanah luas, tetapi tidak mengerjakannya sendiri dan hidup mengeksploitasi atau memerah tenaga orang lain.
  2. Petani kaya (Rich peasants), yakni mereka yang memiliki tanah namun mengerakannya sendiri, serta terkadang mempekerjakan orang lain atau menyewakan tanahnya pada petani miskin.
  3. Petani kelas menengah (Middle peasants), yakni mereka yang mengerjakan tanahnya sendiri tanpa mengeksploitasi orang lain.
  4. Petani miskin (Poor peasants), yakni mereka yang hanya memiliki tanah yang sempit atau menyewa tanah dari orang lain.
  5. Orang yang tidak memiliki tanah, dimana mereka harus menjual tanahnya dengan mengelola tanah orang lain.

Yang paling terpengaruh oleh kebijaksanaan baru ini adalah para tuan tanah serta petani kaya. Sedangkan petani kelas menengah paling sedikit menderita kerugian. Agar para tuan tanah tidak timbul kembali, pemerintah kemudian menetapkan sistem kolektivisme, yakni kepemilikan tanah bersama.

Untuk membangun kembali dan memajukan bidang industri, pemerintah mencadangkan apa yang dinamakan Rencana 5 tahun pertama (First Five Year Plan), yang dimulai pada tahun 1951. Hasilnya perindustrian mengalami peningkatan sebesar 25% pada tahun 1956. Produksi baja mencapai 5,3 juta ton; besi 5,8 juta ton; tenaga listrik 19.030 juta kwh, dan hasil petani 11,6% diatas target. (Taniputera, 2013:583).

Revolusi Kebudayaan dan Wafatnya Mao Zedong

Revolusi kebudayaan merupakan gerakan politik nasional yang diorganisir dan dipimpin oleh sekelompok elite politik di bawah pimpinan Mao Tse-tung. Revolusi tersebut berusaha menguji semua pejabat, khususnya para pejabat tinggi, memperbarui dan membersihkan mereka yang tidak mengikuti petunjuk-petunjuk Mao.

Dalam pandangan Mao banyak pemimpin menjadi borjuis dan korup. Jadi revolusi kebudayaan dipandang sebagai kampanye pembetulan dan sebagai kampanye massa untuk perjuangan kelas dalam menyelesaikan kontradiksi antara kaum proletar dan borjuis.

Setelah mundurnya Mao dari kursi kepresidenan China setelah kegagalannya dalam program lompatan besar kedepan, Mao masih tetap merupakan pemimpin tertinggi yang diagung-agungkan oleh rakyat. Namun yang menjalankan pemerintahan adalah dari kaum pragmatis di bawah Liu Shaoqi.

Revolusi Kebudayaan dilancarkan pada tahun 1966 oleh Mao Tsetungsebagai puncak perseteruannya dengan pejabat presiden Liu Shaoqi dan kliknya yang dituduh beraliran kanan, mendukung intelektualisme dan kapitalisme. Liu Shao Qi dan Deng Xiao Ping melihat bahwa kegagalan Lompatan Jauh ke Depan menunjukkan bahwa sosialisme orthodox yang dipegang Mao tidak lagi bisa dipertahankan, oleh karena itu perlu adanya revisionisme seperti yang dilakukan Uni Soviet.

Gagasan ini sangat ditentang oleh Mao karena bertentangan dengan ide Mao dan tentuakan berpengaruh pada legitimasi Mao. Revolusi Kebudayaan merupakan gerakan anti kapitalisme. Selaku presiden RRC, Liu Shao Qi memiliki gagasan untuk melunakkan penindasan pemerintahan terhadap kehidupan sosial-ekonomi rakyat.

Melalui program Tiga Milik Pribadi dan Satu Garansi (sanziyibao), Liu mengijinkan rakyat untuk mengerjakan tanah miliknya sendiri serta memiliki usaha kecil untuk di jual ke pasar bebas. Hal inimembuat Mao khawatirakan membangkitkan kapitalisme di China.

Tahap pertama adalah Gerakan Revolusi Kebudayaan itu secara langsung mengenai isi seni, literatur, dan drama dengan menekankan bahwa ekspresi kebudayaan harus menghormati nilai-nilai kebangsaan dan proletar dalam masyarakat sosialis, menentang musuh-musuh kelas dan asing, dan menolak nilai-nilai tradisional China.

Tujuan revolusi kebudayaan tersebut adalah untuk memelihara ideologi komunisme, budaya, dan adat kebiasaan proletariat. Komunisme merupakan satu-satunya kekuatan yang meliputi keseluruhan, mengontrol penuh atas seluruh wilayah, tidak hanya tubuh, tetapi juga pikiran. Revolusi kebudayaan memaksa pemujaan sepenuhnya terhadap partai komunis dan Mao Zedong.

Langkah organisasional Mao selama masa revolusi ini adalah dengan membentuk rantai komando pribadi yang beroperasi di luar mesin partai, meskipun secara resmi menyatakan berada di bawah polit biro dan komite pusat. PKC tidakdapat dijadikan sumber legitimasi karena terdapat kubu Liu Shao Qi dan Deng Xiao Ping.

Mao memobilisasimiliter, kaum intelektual radikal dan para pelajar. Mao juga menguasai media khususnya Koran paling berpengaruh “harian rakyat”. Pada bulanJuni membuat serangkaian editorial yang menganjurkan rakyat untuk menegakkan kekuasaan mutlak ketua Mao, menyapu bersih semua setan, sapi, iblis, ular (musuhkelas) dan mendesak rakyat agar mengikuti Mao dan bergabung dalam Revolusi Kebudayaan yang sangat luas dan belum pernah ada sebelumnya.

Tahap kedua adalah serangan terbuka yang dilancarkan oleh kelompok Pengawal Merah yang berlangsung dari bulan Agustus sampai bulan November 1966. Revolusi Kebudayaan dikawal oleh Pengawal Merah yang di dirikan oleh mahasiswa dan pelajar pada tahun 1966. Pengawal Merah menjadi ujung tombak

Revolusi Kebudayaan dan didukung oleh Tentara Pembebasan Rakyat. Dengan dukungan kekuasaan resmi tersebut dan ditutupnya kegiatan sekolah-sekolah, organisasi-organisasi Pengawal Merah berkembang biak, membawa berjuta-juta pemuda turun ke jalan berdemonstrasi mendukung ketua Mao Tse-tung, mengutuk dan meneror mereka yang digolongkan sebagai lawan-lawannya, dan menghancurkan berbagai lambang kebudayaan „borjuis‟ atau reaksioner.

Akan tetapi walaupun aksi-aksi mereka mengarah kepada ketaatan yang hampir fanatik terhadap Mao, mereka tidak dapat menyingkirkan lawan-lawan Mao dari kekuasaan.

Puncak Revolusi Kebudayaan terjadi pada tahun 1967. Antara tahun 1966-1967 negara mengalami keadaan kacau balau oleh tindakan Pengawal Merah yang secara bebas menyerang apapun juga. Targetnya adalah pejabat-pejabat rendah dan menengah serta kader-kader partai.

Mereka mengecam siapapun yang berada dalam posisi pimpinan. Kecaman-kecaman sering berubah menjadi sanksi atau hukuman. Korban berjatuhan 53 karena hukuman maupun bunuh diri. Misalnya dosen atau petinggi universitas dialih tugaskan kepeternakan babi, dokter ahli dimutasi menjadi petugas kebersihan WC, atau birokrat dikirim ke pedalaman agar menghayati keadaan rakyat.

Tahap ketiga berlangsungnya Revolusi Kebudayaan adalah perebutan kekuasaan yang berlangsung dari bulan Desember 1966 sampai bulan September 1968. Gerakan tersebut meluas sampaike daerahpedalaman, perusahaan-perusahaan, dan pemerintahan serta partai.

Kelompok pemberontak revolusioner‟ baru umumnya berasal dari masyarakat pekerja, dan dengan demikian merupakan organisasi-organisasi massa yang lebih luas daripada para pengawal Merah yang terdiri dari kaum mahasiswa dan pelajar.

Pada 1976, Mao mendapat tiga kali serangan jantung. Pertama terjadi pada bulan Maret, kemudian yang kedua pada bulan Juli, dan yang terakhir 5 September 1976. Mao meninggal dunia pada usia 82 tahun di 9 September 1976. Dan jenazahnya disemayamkan di Aula Besar Rakyat selama satu pekan. 17 September, jenazahnya dibawa menuju Rumah Sakit 305 di Maojiawan di mana organ dalamnya diawetkan menggunakan formalin. Jenazah Mao kemudian di baringkan di mausoleum di Beijing pada 18 September 1976.

DAFTAR PUSTAKA

  • Abdullah Zakaria Gozali (et.al.). 2000. Sejarah Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Asia Timur 1800-1963. Kuala Lumpur: Fajar Bakti.
  • Darini, R. 2010. “Garis Besar Sejarah China Era Mao”. Makalah. Yogyakarta : Universitas Negeri Yogyakarta.
  • Meisner, Maurice. 1999. China’s Mao and After: the History of People’s Republic New York: Free Press.
  • Taniputera, I. 2013. History of China. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media.

Biodata Penulis

Nama
Diayu Putri Permatasari
Emaildiayu112233@gmail.com
AlamatDesa Karanganyar, Kecamatan Ambulu, Kab. Jember, Jawa Timur : 68172
No. Hp08812848939
PTNUniversitas Jember, FKIP Pendidikan Sejarah