Somalia negara lahan Tuhan

Somalia – Sewaktu matahari kian condong ke barat di dataran negeri ini, iring-iringan karavan menuju ke tempat melepas dahaga. Seorang anak lelaki bernama Omar tersenyum kepada ayahnya sebagai ungkapan kegembiraannya karena telah sampai di mata air itu. Para musafir tersebut telah berjalan bermil-mil dan mata air itu merupakan titik pertemuan mereka.

Para pria dengan jubah putih yang berdebu saling memberi salam dengan hangatnya, sedangkan para wanita berkumpul dalam kelompok kecil untuk berbincang, anak-anak berlarian dari satu kelompok ke kelompok lainnya, dan hewan- hewannya tidak sabar lagi menunggu giliran untuk melepas dahaga di mata air itu.

Omar mereguk dan menelan air yang dirasanya manis itu sambil membayangkan semangkuk teh kental panas yang harum di suatu senja di sekeliling api unggun sambil mendengarkan para pria mengisahkan petualangan mereka di padang semak belukar, saling bertukar berita tentang sanak keluarga yang telah menetap di kota, serta membicarakan berbagai kejadian mutakhir di bidang pemerintahan dan politik.

Dalam pertemuan di senja hari seperti itulah Omar banyak belajar tentang sejarah dan tradisi bangsanya, legenda dan Iagu-lagunya, serta kebanggaan mereka terhadap negara baru itu.

Peta wilayah Somalia

Selengkapnya kunjungi Peta Somalia atau di google map

Geografi Somalia

Republik Demokrasi Somalia, atau biasa disebut Somalia saja, terletak di Afrika sebelah timur. Pesisir sebelah utaranya menghadap ke Teluk Aden dan pesisir sebelah timurnya menghadap ke Samudra Hindia.

Kenya, Ethiopia, dan Djibouti adalah tiga negara yang berbatasan dengannya. Negeri yang sedikit lebih luas dari Prancis, berwilayah seluas 637.657 km2. Mogadishu (Mogadiscio) yang terletak di pesisir dekat garis khatulistiwa adalah ibu kota dan bandar utamanya.

Kota utama lainnya adalah Hargeisa, Merca, Berbera, dan Kismayu. Tiga ibu kota regional yang penting adalah Burao, Belet Uen, dan Galkayu.

Sungai utamanya adalah Webi Shebeli, yang mengalir melintasi bagian tengah, dan Juba, yang mengalir di wilayah bagian selatan. Kedua sungai itu bermata air di negara tetangganya Ethiopia. Hulu kedua sungai tersebut berada di tanah tinggi negeri itu dan kemudian mengalir ke selatan melintasi Somalia.

Iklim Somalia adalah tropis kering dengan curah hujan tahunan kurang dari 50 cm. Sebagian besar lahannya adalah setengah gurun yang gersang. Terdapat pegunungan di bagian utara negeri ini. Wilayah sebelah tenggara rendah dan datar.

Somalia memiliki garis pantai sepanjang 2.600 km, tetapi tidak mempunyai pelabuhan alam yang besar. Karena adanya karang perintang lepas pantai, para penumpang dan barang dari kapal samudra yang modern terpaksa harus diangkut ke darat dengan menggunakan kapal motor.

Bandar Mogadishu, Berbera, dan Kismayu kini sedang ditingkatkan kondisinya secara besar-besaran. Dhow, yakni kapal layar panjang dengan layar berbentuk segitiga, cukup aktif beroperasi di perairan pantai dan menyeberangi Teluk Aden ke kota Aden. Dewasa ini kapal tersebut semakin digeser oleh perahu motor yang tidak begitu berwarna-warni tetapi lebih praktis. Negeri ini belum mempunyai jalur kereta api.

Dalam sejarahnya yang panjang itu, wilayah Somalia mempunyai banyak nama. Di zaman purba negeri ini disebut-sebut sebagai lahan Tuhan. Pada zaman lain ia disebut sebagai lahan susu dan mur. Somal berarti ”air susu sapi atau kambing”, yang secara kebetulan merupakan makanan kesukaan penduduk terutama para penggembalanya.

Tanaman yang menghasilkan kemenyan dan mur tumbuh di bagian utara republik ini dan boleh jadi dupa dan kemenyan yang dibawa oleh Tiga Orang Majus ke Bethlehem itu mungkin berasal dari wilayah ini.

Mungkin pula Somalia adalah Lahan Ponto yang disebut-sebut dalam berbagai tulisan Mesir kuno. Kini wilayah tersebut disebut Tanduk Afrika dan, jika Anda melihat peta Afrika demikian rupa sehingga bagian timur menjadi bagian utara, Anda akan tahu mengapa wilayah ”itu disebut demikian. Dari sudut pandangan tersebut, bagian yang menjorok ke Teluk Aden dan Samudra Hindia itu mirip dengan tanduk badak.

Penduduk Somalia

Bangsa yang tinggal di republik ini mempunyai hubungan yang erat dengan bangsa yang hidup di negara tetangganya Ethiopia, Kenya, dan Djibouti. Banyak bangsa yang bermukim di ketiga negara tersebut berharap bahwa kelak berbagai wilayah tempat tinggal mereka itu akan dipersatukan ke dalam Republik Somalia.

Meskipun penampilan fisik bangsa ini beragam (ada yang pendek, tinggi, berkulit hitam, atau berkulit kuning), ciri khas bangsa Somalia adalah berkulit hitam, bermata hitam yang berbentuk buah persik, serta berambut lebat dan keriting.

Para pria dan anak lelaki di daerah perkotaan berpakaian gaya-Barat, tetapi para’pemuda dan kebanyakan pria di daerah pedesaan mengenakan futa, atau jubah tradisional. Kaum wanita dan para gadis mengenakan sarung yang dibuat dari kain berwarna-warni yang bermeter-meter panjangnya, dililitkan ke tubuh, dan diikatkan pada bahu kanan sehingga bahu kirinya tetep terbuka.

Di kota besar serta di daerah pedalaman, para wanita menggendong bayi mereka di punggung dengan selendang. Para wanita dan gadis mengenakan kerudung, sedangkan kaum pria dan anak lelaki mengenakan sorban atau kopiah Muslim yang terbuat dari bahan tenunan atau sulaman.

Cara Hidup Penduduk

Pekerjaan dan cara hidup bangsa Somalia sebagian besar ditentukan oleh iklimnya yang kering dan tropis. Di daerah yang cukup air dan lahannya dapat _ digarap, penduduk melakukan kegiatan berkebun.

Di bagian selatan republik ini, di dekat Sungai Webi Shebeli dan Sungi Juba, terdapat perkebunan pisang dan tebu. Terdapat pula lahan pertanian yang ditanami wijen, cantel, kacang tanah, kapas, buah-buahan, dan sayur-mayur.

Sebagian besar bangsa ini, yakni sekitar 70°o, adalah penggembala dengan gembalaan berupa unta dan sapi serta kawanan domba dan kambing. Para penggembala ini hidup di kampung halaman mereka di sekitar padang gembalaan selama beberapa bulan dalam setahun.

Selama musim kemarau, mereka menghimpun gembalaan mereka dan berjalan ke daerah yang lebih jauh. Setiap marga mempunyai lahan tradisional sendiri-sendiri. Di masa silam, peperangan sering meletus kalau orang dari suatu marga melewati wilayah marga lainnya. Bahkan sampai sekarang. marga tetap melindungi sumur dan padang penggembalaan tradisional mereka.

Kehidupan Keluarga Kelompok penggembala yang khas terdiri atas suatu keluarga besar mungkin sampai sebanyak 150 orang. Karena penduduk Somalia beragama Islam, maka lelaki mungkin mempunyai isteri sebanyak 4 orang, tetapi hanya sedikit yang mampu mempunyai isteri sebanyak itu.

Dalam suatu keluarga besar, mungkin kita dapati seorang kakek dengan para isterinya, beberapa anak lelakinya beserta para isteri mereka, dan semua cucu. Anak perempuan yang telah menikah hidup bersama suaminya di lingkungan kelompok marga suaminya.

Para pria dan anak lelaki yang sudah dewasa menggembala unta, sedangkan para wanita, gadis, dan anak lelaki yang masih kecil memelihara sapi, domba, dan kambing. Para wanita dan gadis juga bertanggung jawab membuat kemah.

Di mana saja keluarga besar itu berhenti untuk menggembala hewannya, para wanitanya mendirikan gubuk sarang lebah sementara yang terbuat dari anyaman jerami yang dibentangkan pada kerangka yang terbuat dari batang pohon yang dilengkungkan. Sewaktu kelompok tersebut meneruskan perjalanan, para wanita melucuti gubuk itu dan mengangkutnya dengan unta.

Pendidikan dan Kebudayaan

Penduduk Somalia memiliki tradisi mendongeng yang besar. Berbagai legenda dan lagu diturunkan dari mulut ke mulut dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sebagian besar sejarah bangsa ini terekam dalam sajaksajak yang tidak pernah ditulis.

Karena agama Islam mengharamkan reproduksi figur manusia dalam bentuk benda seni, berlainan dengan berbagai bangsa Afrika lainnya, bangsa ini tidak membuat topeng.

Disain yang mereka gunakan untuk menghias bejana tanah liat, keranjang anyaman, piring kayu, sisir, sendok, dan benda-benda lainnya berupa figur dan garis geometris. Perangko Somalia banyak mendapat pujian di kalangan internasional karena keindahannya yang luar biasa.

Karena demikian banyaknya penduduk yang hidup berpindah-pindah sepanjang tahun, maka hanya sedikit anak lelaki dan anak perempuanyakni mereka yang tinggal di permukiman tetap-yang bersekolah secara teratur.

Jalan di Kota Mogadishu Somalia

Di Mogadishu terdapat sebuah universitas, sedangkan di berbagai kota lainnya di seluruh negeri terdapat sekolah dasar dan sekolah kejuruan serta sejumlah sekolah menengah. Karena bagian utara republik ini dahulunya diperintah oleh Inggris, sedangkan yang sebelah selatan oleh “Italia, maka bahasa Inggris, Italia, dan Arab merupakan ragam bahasa tulisan nasional.

Bahasa Somalia digunakan di seluruh negeri, tetapi belum ada ragam tulisan yang resmi. Tahun 1974 suatu ragam bahasa tulisan Somalia yang seragam telah diterapkan pemerintah.

Sejarah Somalia dan Pemerintahan

Penduduk Somalia tertentu yakin bahwa nenek moyang mereka datang ke Afrika melintasi Teluk Aden dari Arabia sekitar abad ke-7. Diketahui bahwa bangsa Arab bermigrasi ke daerah tersebut, menikah dengan penduduk setempat yang terutama terdiri atas penggembala nomadik dan memasukkan agama Islam. Ini merupakan awal terbentuknya bangsa ini.

Sejarah modern Somalia bertitik tolak dari kolonisasi Inggris dan Italia pada pertengahan tahun 1880-an. Zeila, Berbera, serta daerah di sekitarnya diperintah oleh Inggris sebagai Somaliland Inggris dari tahun 1880-an sampai tahun 1960.

Lebih jauh ke selatan, di sepanjang garis pantai dari Tanjung Guardafui sampai ke Kenya, terdapat suatu bentang lahan yang merupakan koloni Italia, yakni Somaliland Italia. Selama Perang Dunia II dan tidak lama sesudahnya negeri ini diduduki oleh Inggris.

Setelah perang selesai koloni tersebut menjadi wilayah perwalian PBB yang diperintah oleh Italia yang ikut membantu mempersiapkan kemerdekaannya. Dalam masa itu bangsa yang tinggal di Somaliland Inggris mulai memperjuangkan kemerdekaan.

Mereka berhasil mewujudkannya dalam bulan Juni 1960. Dalam bulan Juli, ketika wilayah bagian selatan itu memperoleh kemerdekaannya, kedua negara tersebut bergabung membentuk Republik Somalia. Pada bulan September 1960 negara itu diterima menjadi anggota PBB pada September 1960 negara itu diterima menjadi anggota PBB.

Republik Somalia merupakan negara demokrasi parlementer sampai tahun 1969 di saat, setelah terjadi pembunuhan atas presidennya, angkatan bersenjata mengambil alih tampuk pemerintahan.

Negara itu kemudian diperintah oleh Dewan Revolusioner Tertinggi dan dinyatakan sebagai negara sosialis dengan nama Republik Demokrasi Somalia. Undang-undang dasar baru disahkan pada tahun 1979 dan pemilihan umum telah dilangsungkan untuk memilih para anggota badan legislatif baru-yakni Majelis Rakyat.

Sejak tahun 1977 para gerilyawan telah berupaya untuk merebut wilayah Ogaden dari tangan Ethiopia, yakni wilayah yang sejak dahulu kala dihuni oleh berbagai marga. Dengan bantuan Uni Soviet, Ethiopia berhasil mempertahankan wilayah tersebut. Dalam proses tersebut lebih dari 1.000.000 anggota marga dari Ogaden terpaksa, mengungsi ke Somalia. Hal itu menimbulkan problem pengungsi yang sangat besar bagi negeri ini.

Pada Mei 1992, bagian utara mengumumkan kemerdekaannya sebagai Republik Somaliland. Akhir tahun perang saudara pecah di Mogadishu dan tempat-tempat lain di selatan antara dua faksi Kongres Somalia Bersatu yang dipimpin oleh pemimpin perang Ali Mahdi Mohammad dan Mohammed Farah Aidid. Ratusan ribu penduduk selatan kelaparan, karena peperangan. Banyak pula yang lari ke Kenya, Ethiopia, Djibouti.

Operasi Pemulihan Harapan dari Amerika Serikat di bawah pengawasan PBB masuk ke negeri ini pada akhir 1992, dan diserahkan ke PBB pada Mei 1993 untuk memastikan bantuan pangan yang dikirim mencapai daerah 50malia yang kelaparan.

Dukungan Amerika Serikat untuk misi ini menurun setelah 18 orang tentara tewas dalam tembak-menembak dengan pasukan Aidid pada Oktober 1993. Tentara Amerika yang terakhir ditarik dari Somalia pada Maret 1994. Pada bulan itu faksi-faksi yang bermusuhan menandatangani perjanjian damai yang diusahakan PBB, namun pertempuran berjalan terus.

Diulas oleh:
MARGARET F. CASTAGNO; ALPHONSO A. CASTAGNO,
Direktur Pusat Pengkajian Afrika, Universitas Boston Diulas oleh ABDURAHMAN HUSSEIN MOHAMOUD, Konsul pada Kedutaan Besar Republik Somalia di Washington, D.C.
Editor: Sejarah Negara Com

Pos terkait