Sejarah Negara

Website History

Menu

Raja Singasari setelah Tohjaya dan kehancurannya

November 6, 2015 | Kerajaan

Wisnuwardhana

Raja Singasari setelah Tohjaya dan kehancurannya – Perseteruan yang panjang antara Anusapati dan Tohyaja akibat bencana bagi Singasari. Karena hal itu membuat suasana kerajaan tidak pernah tenteram, yang akhirnya berakhir dengan kematian keduanya. Sepeninggal Tohjaya, pada tahun 1248 M Ranggawuni dinobatkan menjadi raja dengan gelar Sri Jaya Wisnuwardhana.

Dalam menjalankan pemerintahannya, Wisnuwardhana didampingi oleh Mahisa Campaka yang diberi kedudukan sebagai ratu anggabhaya dengan gelar Narasinghamurti.

Pada tahun 1255 M, Wisnuwardhana mengeluarkan sebuah prasasti berkenaan dengan pengukuhan desa Mula dan desa Malurang menjadi sima untuk Sang Pranaraja dengan keturunan-keturunannya yang telah berjasa kepada raja.

Dalam kakawin Negara Kertagama disebutkan bahwa Wisnuwardhana menobatkan anaknya, Kertanegara menjadi Yuwaraja pada tahun 1254 M. Yuwaraja yaitu putra mahkota yang telah mendapat kekuasaan penuh dalam pemerintahan.

Kertanegara

Raja Singasari setelah Tohjaya dan kehancurannya – Sebelum tahun 1268 M, Kertanegara belum memerintah sendiri sebagai raja Singasari. Pada waktu itu ia masih memerintah di bawah bimbingan ayahnya, raja Wisnuwardhana. Di dalam prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh Kertanegara sebelum tahun 1268 M, selalu didapati istilah makamangalya, yang berarti di bawah bimbingan.

Raja Kertanegara adalah raja Singasari yang sangat terkenal, baik dalam bidang politik maupun kegamaan. Dalam bidang politik ia terkenal sebagai seorang raja yang memiliki gagasan perluasan cakrawala mandala ke luar pulau Jawa, yang meliputi daerah seluruh Nusantara. Dalam bidang keagamaan ia terkenal sebagai penganut agama Buddha Tantrayana.

Peristiwa-peristiwa politik Kertanegara tercantum dalam kitab Negarakertagama dan Pararaton. Tetapi dua kitab tersebut memberikan penafsiran yang berbeda tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi.

Pada pokoknya, Negarakertagama memuji tindakan-tindakan Kertanegara, sedangkan Pararaton menjelekannya. Dari keadaan itu dapat diambil kesimpulan, bahwa terhadap segala tindakan Kertanegara ada pihak yang setuju, tetapi ada juga yang menentangnya. Rupanya tindakan Kertanegara tegas dan berani, sehingga disorot oleh semua lapisan masyarakat.

Politik dalam negeri Kertanegara

Raja Singasari setelah Tohjaya dan kehancurannya – Kertanegara berusaha menciptakan kestabilan politik dalam negeri. Beberapa tindakannya untuk menciptakan kestabilan tersebut antara lain sebagai berikut :

1. Memberantas pengacau yang menimbulkan keresahan dalam masyarakat. Pada tahun 1270 Kertanegara membunuh seorang pengkhianat negara bernama Cayaraja. Tahun 1280 seorang pengkhianat lain bernama Mahisa Rangkah yang memiliki banyak pengikut di seluruh negara juga dibunuh.

2. Dalam bidang pemerintahan ia bertindak secara berani dan tegas, ia mengadakan mutasi (peralihan jabatan). Jabatan-jabatan negara Patih Rajanatha yang telah tua digantikan oleh Apanji Aragani dari golongan muda. Seorang tokoh terkemuka Banyak Wide diangkat menjadi Adipati di Madura dan diberi gelar Arya Wiraraja.

3. Di dalam negeri masih ada tokoh-tokoh yang dianggap berbahaya, yaitu Jayakatwang, raja Kediri keturunan Kertajaya. Kerajaan Kediri telah dihancurkan oleh Ken Arok, buyut Kertanegara. Namun, sebenarnya Kediri tidak sepenuhnya hancur, tetapi diperintah oleh keturunan Kertajaya dengan mengakui kepemimpinan Singasari.

Menurut prasasti Mula-Malurang tahun 1255 disebutkan bahwa pada waktu itu yang berkuasa dan menjadi raja Daha adalah Sri Kertanegara. Sedangkan Jayakatwang memerintah di Gelang-Gelang.

Sejak tahun 1271 Jayakatwang berkuasa di Daha. Raja Kertanegara mengambil langkah-langkah untuk menjaga hubungan politik yang baik dengan Jayakatwang. Anak Jayakatwang yang bernama Arhareja dijadikan menantu Kertanegara, sedangkan saudara perempuan Kertanegara bernama Turukbali menjadi istri Jayakatwang.

Selanjutnya Ardhareja diangkat menjadi seorang panglima tentara Singasari. Dilain pihak masih ada seorang tokoh yang berhak atas tahta kerajaan karena keturunannya, ialah Raden Wijaya. Raden Wijaya adalah putra LEmbu Tal, cucu Mahisa Campaka atau Narasinghamurti. Jadi, ia masih keturunan Ken Arok dan Ken Dedes.

Dari susunan keluarga ia adalah keponakan Kertanegara. Maka Raden Wijaya dijadikan menantu Kertanegara juga sekaligus diangkat menjadi panglima tentara Singasari.

Silsilah keturunan Tunggul Ametung dan Ken Arok

Silsilah keturunan Tunggul Ametung dan Ken Arok

Silsilah raja-raja Singasari keturunan Tunggul Ametung dan Ken Arok

Politik Luar negeri Kertanegara

Melihat kemunduran Kerajaan Sriwijaya, Kertanegara berusaha memperoleh kedudukan pada tempat yang strategis dan penting artinya bagi siasat pertahanan, yaitu Melayu pada tahun 1275. Kertanegara memerintahkan sebuah ekspedisi berangkat ke Melayu. Peristiwa itu disebut Ekspedisi Pamalayu.

Ekspedisi itu dimaksudkan bukan untuk menaklukkan Melayu, melainkan merupakan suatu misi persahabatan. Pamalayu berarti persetujuan persekutuan dengan Melayu. Hubungan persahabatan lalu dipererat dengan perkawinan, sehingga hubungan persahabatan tersebut menjadi hubungan kekeluargaan. Kertanegara pun memberikan hadiah sebuah arca Buddya Amogapasya kepada raja Melayu, yang diterima dengan kegembiraan.

Pada tahun 1284, Singasari menaklukkan Kerajaan Bali yang tidak tunduk dan merupakan ancaman bagi keamanan Singasari. Dengan Kerajaan Campa diadakan hubungan persahabatan yang diperkuat dengan hubungan kekluargaan, yakni dilangsungkannya perkawinan antara Raja Campa dengan saudara perempuan Kertanegara yang bernama Ratu Tapasi.

Tindakan raja Kertanegara untuk memperluas kekuasaannya ke luar Jawa rupanya didorong oleh ancaman dari Cina, yaitu dari Kaisar Kubilai Khan, raja dari Dinasti Mongol. Kubilai Khan sangat berambisi menguasai wailayah Asia Tenggara, termasuk Singasari.

Pada tahun 1280 dan 1281 Kubilai Khan mengirimkan utusan ke Singasari guna meminta Kertanegara mengakui kekuasaan Mongol. Namun Kertanegara selalu menolak. Utusan Kubilai Khan yang terakhir tiba di Singasari tahun 1289.Karena merasa kesal, utusan tersebut marah besar. Sebagai pembalasan atas penghinaan itu, ia menyiapkan pasukan untuk menyerang Singasari. Pada akhir tahun 1292 dikirimlah pasukan itu ke Jawa di bawah pimpinan dua orang panglima perang, yaitu Shihpi-lheh-mi-shih dan Kau Hsing.

Kerajaan Singasari tidak tinggal diam dalam menghadapi kemungkinan serbuan dari Mongol. Kertanegara berusaha memperkuat pasukannya dengan menambah jumlah tentaranya. Selain itu, ia juga menjalin persahabatan dengan kerajaan-kerajaan lain guna menambah dukungan kekuatan. Persahabatan tersebut antara lain dilakukan dengan Kerajaan Champa di Vietnam.

Namun, di dalam neger sendiri Kertanegara mendapat rongrongan dari Jayakatwang, seorang keturunan Raja Kertajaya yang ingin membangun kembali negerinya. Dengan memanfaatkan keberadaan sebagian pasukan Singasari yang sedang berada di Melayu, Jayakatwang berusaha menyerang Singasari.

Baca juga referensi lain ulasan singkat beridirinya Singasari hingga kehancurannya di artikel sejarah :
Kerajaan Singasari

Kertanegara yang saat itu sedang melakukan upacara dengan para brahmana akhirnya terbunuh. Menantunya, Raden Wijaya berhasil menyelamatkan diri ke Madura. Maka runtuhlah Singasari.

Related For Raja Singasari setelah Tohjaya dan kehancurannya