Sejarah Negara

Website History

Menu

Satrio Piningit dalam Kitab Musasar Jayabaya

Juli 8, 2014 | Catatan

Satrio Piningit dalam Kitab Musasar Jayabaya – Uraian yang menandai suatu masa atau periode Pulau Jawa termuat dalam Sinom.

1. Bait 18 yang berbunyi sebagai berikut :

Dene jejuluke nata

Lung gadhung rara nglingkasi

Nuli salin gajah meta

Semune tengu lelaki

Sewidak warsa nuli

Ana dhawuhing bebendu

Kelem negaranira

Kuwur tataning negari

Duk semana pametine wong ing ndesa

Artinya : Nama rajanya Lung Gadhung Rara Nglikasi, kemudian berganti Gajah Meta Semune Tengu Lelaki. Enam puluh tahun menerima kutukan, sehingga tenggelam negaranya dan hukum tidak karu-karuan. Waktu itu pajaknya rakyat adalah….

Lung Gadhung Rara Nglikasi memiliki makna pemimpin penuh inisiatif (cerdas) nemun memiliki kelemahan sering tergoda wanita. Pertanda ini menunjuk pada presiden pertama RI Soekarno. Sedangkan Gajah Meta Semune Tengu Lelaki bermakna pemimpin yang kuat, karena disegani atau ditakuti namun akhirnya terhina atau nista. Pertanda ini menunjuk pada presiden kedu Republik Indonesia yaitu Soeharto.

Dalam bait ini juga dikatakan bahwa selama ini negara menerima kutukan, sehingga tidak ada kepastian hukum.

2. Bait 20 yang berbunyi sebagai berikut :

Bojode ingkang negara

Narendra pisah lan abdi

Prabupati sowang-sowang

Samana ngalih nagari

Jaman Kutila genti

Kara murka ratunipun

Semana linambangan

Dene Maolana Nglali

Panji loro semune Pajang Mataram

Artinya : Negara rusak, raja berpisah dengan rakyat, bupati berdiri sendiri-sendiri, kemudian berganti zaman Kutila, rajanya Kara Murka, lambangnya Panji Loro Semune Pajang Mataram.

Bait ini menggambarkan situasi negara yang kacau. Pemimpin jauh dari rakyat dan dimulainya era baru dengan yang dinamakan otonomi daerah sebagai implikasi bergulirnya reformasi (zaman kutila).

Karakter pemimpinnya saling menjegal untuk menjatuhkan (raja kara murka). Perlambang Panji Loro semune Pajang Mataram bermakna ada dua kekuatan pimpinan yang berseteru, yang satu dilambangkan Pajang (Joko Tingkir) dan yang lain diambangkan dengan trah Mataram (Pakubuwono). Hal ini menunjuk pada era Gus Dur dan Megawati.

3. Bait 21 yang berbunyi sebagai berikut :

Nakoda melu wasesa

Kaduk bandha sugih wani

Sarjana sirep sadaya

Wong cilik kawelas asih

Mah omah bosah baseh

Katarajang marga agung

Panji loro dyan sirna

Nuli rara ngangsu sami

Randha loro nututi pijer tetukar

Artinya : Nahkoda ikut serta memerintah, punya keberanian dan kaya, sarjana (orang pandai) tidak berdaya, rakyat kecil sengsara, rumah hancur berantakan diterjang jalan besar, kemudian diganti dengan lambang Rara Ngangsu, Randha loro Nututi Pijer Tetukar.

Situasi negara dalam bait ini digambarkan bahwa kekuatan asing memiliki pengaruh sangat besar. Orang pandai berpendidikan tinggi dilambangkan tidak berdaya (pinter keblinger). Kondisi rakyat kecil makin sengsara. Perlambang Rara ngangsu, randha loro nututi pijer tetukar bermakna seorang pemimpin wanita yang selalu diintai oleh dua saudara wanitanya seolah ingin menggantikan.

Perlambang ini menunjuk pada Megawati presiden RI kelima yang selalu dibayangi oleh Rahmawati dan Sukmawati.

4. Bait 22 yang berbunyi sebagai berikut :

Tan kober paes sarira

Sinjang kemben tan tinoleh

Lajengipun sinung lambang

Dene Maolana Ngali

Samsujen Sang-a Yogi

Tekane Sang Kala Bendu

Sasmitane lambang kang kocap punika

Artinya : Tan kober paes sarira sinjang kemben tan tinoleh itu sebuah lambang yang menurut Seh Ngali Samsujen datangnya Kalabendu. Perlambang Tan kober paes sarira sinjang kemben tan tinoleh bermakna pemimpin yang tidak sempat mengatur negara, karena direpotkan dengan berbagai masalah.

Hal ini menunjuk pada presiden RI keenam saat ini, yaitu Susilo Bambang Yudhoyono. Sedangkan perlambang Semarang Tembayat tempat merupakan tempat di mana ada seseorang memahami dan mengetahui solusi dari apa yang terjadi.

5. Bait 27 yang berbunyi sebagai berikut :

Dene besuk nuli ana

Tekane kang Tunjung putih

Semune pundhak kasungsang

Bumi Mekah denya lair

Iku kang angratoni

Jagad kabeh ingkang mengku

Juluk Ratu Amisan

Sirep musibating bumi

Wong nakoda milu manjing ing samuwan

Artinya : Kemudian kelak akan datang Tunjunt putih semune Pundhak kasungsang lahir di bumi Mekah, menjadi raja di dunia bergelar Ratu Amisan, redalah kesengsaraan di bumi, nahkoda ikut ke dalam persidangan.

Perlambang tunjung putih semune pundhak kesungsang memiliki makna seorang pemimpin yang masih tersembunyi berhati suci dan bersih. Inilah seorang pemimpin yang dikenal banyak orang dengan nama “Satrio Piningit”.

Lahir di bumi Mekah merupakan perlambang bahwa pemimpin tersebut adalah orang Islam sejati memiliki ketauhidtan sangat tinggi.

6. Bait 28 yang berbunyi sebagai berikut :

Prabu tusing waliyulah

Kadhatone pan kekalih

Ing Mekah ingkang satunggal

Tanah Jawi kang sawiji

Prenahe iku kaki

Perak lan gunung perahu

Sakulone tempuran

Balane samya jrih asih

Iya iku ratu rinenggeng sajagad

Artinya : Raja utusan waliyullah, berkedaton dua di Mekah dan tanah Jawa, letaknya dekat Gunung Perahu, sebelah barat tempuran, dicintai pasukannya, memang raja yang terkenal sedunia.

Bait ini menggambarkan bahwa pemimpin tersebut adalah hasil didikan atau tempaan seorang waliyullah (aulia) yang juga selalu tersembunyi. Berkedaton di Mekah dan tanah Jawa merupakan perlambang yang bermakna bahwa pemimpin tersebut selain ber-Islam, juga berpegang teguh pada kawruh Jawa (ajaran leluhur Jawa tentang laku utama).

Sedangkan Gunung Perahu seperti telah disinggung sebelumnya adalah Lebak Cawene. Sedangkan tempuran adalah pertemuan dua sungai di muara yang biasanya digunakan untuk tempat bertirakat “kungkum” bagi orang Jawa. Namun, di sini tempuran bermakna “watu gilang, sebagai pertemuan alam fisik dan alam gaib.

Baca juga : 7 ciri Satrio Piningit ramalan Jayabaya

Dalam budaya spiritual Jawa keberadaan watu gilang sangat lekat dengan eksistensi seorang raja. Pemimpin tersebut akan mampu memimpin nusantara ini dengan baik, adil, dan membawa pada kesejahteraan rakyat, serta menjadikan nusantara sebagai barometer dunia (istilah Bung Karno : “negara Mercusuar”).

Baca juga : 9 bait terakhir ramalan Jayabaya

Related For Satrio Piningit dalam Kitab Musasar Jayabaya