Sejarah Negara

Website History

Menu

Tradisi Tabot dan Tabuik di Sumatra

Agustus 20, 2014 | Budaya

Tradisi Tabot dan Tabuik di Sumatra – Jika sebelumnya telah kita bahas Tradisi Jawa yang bernafaskan Islam, selanjutnya mari kita tengok tradisi ke pulau seberang, yaitu Sumatra yang juga bernafaskan Islami. Di Sumatra khususnya di Padang dan Medan terdapat upacara yang dinamakan dengan Tabot, yaitu acara menyambut Maulid Nabi Muhammad.

Tradisi Tabot dan Tabuik di Sumatra – Upacara ini bertujuan memperingati meninggalnya cucu Nabi Muhammad SAW yang bernama Husain bin Abi Thalib di medan peperangan. Tabot dirayakan di Bengkulu oleh Syekh Burhanuddin, upacara ini dilaksanakan pada tanggal 1 sampai 10 Muharam. Tabot menggunakan alat musik yang disebut dengan Dol dan Tessa.

Tahapan pelaksanaan upacara Tabot dan Tabuik

1. Mengambil tanah

Upacara ini dimulai dengan mempersiapkan tanah yang diambil di tepi sungai tertentu yang mengandung unsur magis, karena itu tanah yang diambil harus dari lokasi yang dianggap keramat. Di bengkulu ada dua tempat yang dianggap keramat, yaitu :

a. Keramat Tapak Padri

Terletak di tepi laut tidak jauh dari Benteng Marlborough di sudut kanan pelabuhan laut Bengkulu.

b. Keramat Anggut

Terletak di pemakaman umum pasar Tebek dekat Tugu Hamilton tidak jauh dari pantai Nala

Upacara pengambilan tanah dilakukan pada tanggal 1 Muharam sekitar pukul 22.00 WIB. Tanah yang diambil disimpan di Gerga (pusat kegiatan kelompok Tabot) dibentuk seperti boneka manusia kemudian dibungkus dengan mori putih lalu diletakkan di Gerga.

Gerga tertua dibengkulu ada 2, yaitu Gerga Berkas, dan Gerga Bangkal.

Di kedua tempat tersebut diberikan sesajen bubur merah dan bubur putih, gula merah, sirih 7 subang, r0k0k nipah 2 batang, kopi pahit 1 cangkir, air serbat 1 cangkir, susu sapi murni 1 cangkir, air cendana 1 cangkir, air dan selasih 1 cangkir.

2. Duduk Penja (mencuri jari-jari)

Penja adalah benda yang terbuat dari kuningan, perak, atau tembaga yang berbentuk telapak tangan manusia lengkap dengan jari-jarinya. Penja merupakan benda keramat yang mengandung magis, untuk itu harus dicuci dengan air limau setiap tahunnya. Pencucian penja disebut dengan Duduk Penja. Peralatan yang dibutuhkan air kembang, air limau nipis, sesajen dan penja yang akan dicuci.

3. Menjara (mengandun)

Menjara artinya berkunjung ke kelompok lain untuk melakukan pertandingan dol (bedug) terbuat dari kayu yang dilubangi, tengahnya ditutupi dengan kulit lembu.

Pelaksanaan menjara :

Tanggal 6 Muharam kelompok Tabot Bangsal mendatangi kelompok Tabot Barkas, tanggal 7 Muharam sebaliknya kelompok Barkas mendatangi kelompok Tabot Bangsal.

4. Meradai (mengumpulkan dana)

Adalah pengambilan dana oleh Jola. Jola yaitu orang yang bertugas mengambil dana untuk kegiatan kemasyarakatan, acara ini dilaksanakan pada tanggal 6 Muharam.

5. Arak Penja (mengarak jari-jari)

Mengarak penja di jalan utama kota Bengkulu. Arakan ini dilaksanakan pada malam ke-8 bulan Muharam, pada pukul 19.00 WIB sampai pukul 21.00 WIB.

6. Arak Serban

Adalah mengarak penja ditambah dengan serban putih dan diletakkan pada Tabot Coki (tabot kecil). Tabot ini dilengkapi bendera warna putih, hijau, biru yang bertuliskan nama “Hasan dan Husein” dengan kaligrafi Arab yang indah. Arak Serban diadakan pada malam ke-9 Muharam.

7. Gam (tenang / berkabung)

Tahapan upacara Tabot yang harus ditaati adalah Gam, yaitu waktu yang tidak boleh ada kegiatan apapun. Gam berasal dari kata “ghum” yang artinya tertutup yang diadakan pada tanggal 9 Muharam pada pukul 07.00 sampai 16.00 WIB.

8. Arak Gedang (Taptu Akbar)

Arak gedang diadakan pada tanggal 9 Muharam pukul 19.00 WIB, yaitu pelepasan Tabot. Bersaing di gerga masing-masing dengan rute yang telah ditentukan, sehingga membentuk arak gedang (pawai akbar) bersama iringan grup hiburan masing-masing menuju lapangan Merdeka Bengkulu.

9. Tabot Tebuang (Tabot terbuang)

Puncak acara Tabot pada tabot tebuang yang diadakan tanggal 10 Muharam. Disaat seluruh Tabot telah terkumpul sekitar pukul 11.00 arak-arakan menuju ke Padang jati dan berakhir di kompleks pemakaman umum Karbala.

Selanjutnya bungkusan tanah tersebut diletakkan di tanah lapang dengan dibuatkan “daraga”, yaitu sebuah ruangan dari kain yang dipancangkan ukuran 3 x 3 m.

Upacara yang sesungguhnya dimulai pada tanggal 5 Muharam, dengan upacara menebas pohon pisang dengan sekali pancung menggunakan pedang yang tajam.

Selanjutnya, pada tanggal 7 Muharam, diadakan upacara mengarak “panja” (lambang jari Husein) dengan mengelilingi “daraga” dengan khidmat.

Berikutnya, pada tanggal 10 Muharam dilanjutkan upacara besar-besaran, dengan mengarak Tabuik (usungan mirip patung buroq/kuda berkepala burung berwajah wanita bersayap) mengelilingi tanah lapang sampai matahari terbenam.

Dalam setiap tindakan pada upacara Tabot selalu diawali dengan pembacaan basmalah dan doa-doa, antara lain :

  • Doa kubur
  • Doa mohon selamat dan ampunan atas arwah orang-orang muslim di dunia
  • Bacaan tasbih
  • Shalawat ulul ‘azmi
  • Shalawat wasilah dan lainnya

Demikian Tradisi Tabot dan Tabuik di Sumatra, semoga menjadi catatan sejarah budaya nusantara.

Related For Tradisi Tabot dan Tabuik di Sumatra