Sejarah Negara Com
Ensiklopedia sejarah dan negara

Guinea

Anak-anak Guinea tumbuh di dua dunia yang berbeda, dunia kuno dan dunia baru. Banyak di antara anak itu masih memiliki orang tua yang mengerjakan berbagai pekerjaan tradisional, seperti menanam tanaman dengan tangan atau beternak sapi.

Dengan mata pencaharian orang tua mereka masih tradisional dan kuno ini, anak-anak bersekolah di berbagai sekolah modern tempat mereka belajar bahasa Prancis, Inggris, dan Arab.

Setiap anak masih juga bertutur dalam bahasa tradisionalnya, yaitu bahasa keluarganya yang juga merupakan bahasa ibunya. Oleh karena itu, di setiap bahasa yang mereka pelajari, anak tersebut mengungkapkan wajah baru dan wajah kuno Guinea.

Peta wilayah Guinea

Kunjungi Peta Guinea atau di google map

Geografi dan Penduduk Guinea

Republik Guinea terletak di pantai barat Afrika dengan total luas hampir 246.000 km2. Batas wilayahnya meliputi: Guinea-Bissau (dahulu adalah Guinea Portugis), Senegal, dan Mali di sebelah utara; Pantai Gading di sebelah timur; serta Sierra Leone dan Liberia di sebelah selatan.

Beberapa hulu sungai penting dua di antara sungai utama di Afrika Barat yaitu Sungai Niger dan Sungai Senegal (yang disebut dengan Bafing di Guinea), berhulu di dataran tinggi.

Air kedua sungai ini serta air Sungai Konkouré sangat membantu bagi pertanian. Sungai Niger yang sumbernya terletak 280 km dari Samudra Atlantik, mengalir melalui beberapa negara sebelum bermuara di Teluk Guinea, 4200 km dari hulu sungai.

4 Wilayah Geografis

Guinea terdiri atas 4 wilayah geografis dimana masing-masing memiliki ciri dan penduduk yang berbeda.

1. Wilayah pertama adalah dataran pantai, yaitu dataran rendah di dekat Samudra Atlantik, yang beriklim tropis dengan curah hujan biasanya lebih dari 250 cm per tahun dan bersuhu udara tinggi sepanjang tahun.

Wilayah pantai ini dihuni oleh sejumlah kelompok suku, yang terpenting di antaranya adalah suku Susu dan suku Landuman.

2. Wilayah kedua adalah Fouta Djallon yang juga dikenal sebagai Guinea Tengah. Wilayah ini merupakan paling spektakuler, tanah tinggi bertebing terjal yang dilintasi oleh berbagai sungai dan lembah serta dihuni terutama oleh suku Fulani.

3. Wilayah ketiga letaknya lebih rendah daripada Fouta Djallon, adalah Guinea Hulu. Setelah melewati Guinea Hulu, beberapa sungai kecil bertemu dengan Sungai Niger yang besar.

Wilayah ini lebih kering dibandingkan dengan wilayah pantai ataupun wilayah Fouta Djallon dan merupakan tempat tinggal suku Fulani dan suku Malinke.

4. Wilayah keempat adalah tanah tinggi Guinea, yaitu wilayah hutan di bagian selatan yang merupakan wilayah terpencil yang dihuni oleh berbagai kelompok suku kecil, di antaranya suku Kissi, Guerzi, Toma, Malinke, dan Kouranke.

Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mengadakan perubahan dalam sistem pendidikan negara. Beberapa di antaranya adalah mengupayakan agar setiap anak dapat bersekolah serta menggalakkan kaum dewasa menghadiri kelas-kelas khusus untuk belajar membaca dan berbagai keterampilan lain.

Pada prinsipnya, pendidikan adalah wajib dan gratis bagi anak usia 7-13 tahun. Sistem pendidikan telah dinasionalisasikan di tahun 1961 dan tekanan baru diletakkan pada berbagai pelatihan teknik, perdagangan, dan politik.

Struktur sistem pendidikan masih meniru model Prancis, tetapi beberapa bahasa utama kini digunakan di sekolah bersama bahasa Prancis. Baik jumlah sekolah maupun jumlah anak yang bersekolah telah meningkat dengan cepat setelah kemerdekaan Guinea.

Pesta hari kemerdekaan Guinea
Pawai siswa di Konakri untuk memperingati kemerdekaan Guinea

Namun, di samping berbagai kemajuan ini, hanya 20% orang dewasa yang dapat membaca dan menulis.

Kota

Konakri sebuah kota modern adalah ibu kota nasional dan pelabuhan utama serta pusat jaringan transportasi negara. Konakri, yang terletak di Pulau Tombo, dihubungkan dengan daratan utama oleh sebuah jembatan. Konakri adalah kota pelabuhan alam yang berair dalam.

Luas Kankan, kota terbesar kedua Guinea jauh lebih kecil daripada Konakri, tetapi merupakan pusat perdagangan utama. Beberapa kota penting lainnya adalah Kindia, Labe, dan Siguiri.

Ekonomi Guinea

Guinea merupakan negara pertanian. Sebagian besar penduduknya mencari nafkah dengan bertani dan beternak sapi secara tradisional. Berbagai hewan diternakkan di seluruh negara, kecuali di wilayah pantai, Di negara ini terdapat kira-kira 1.800.000 ekor sapi dan 400.000 ekor kambing.

Para petani menanam tanaman untuk di ekspor dan konsumsi dalam negeri yang beragam di setiap tempat. Di dataran pantai, misalnya, pisang ditanam di perkebunan, terutama sebagai bahan ekspor.

Banyak di antara perkebunan terletak dekat dengan rel kereta api atau dekat dengan pelabuhan Konakri. Pelabuhan ini memiliki peralatan khusus untuk mengangkut pisang.

Terdapat 2 varietas padi ditanam, yaitu padi basah: padi yang ditanam di tanah berair, dan padi bukit yang ditanam di lahan kering. Ubi dan singkong juga ditanam, terutama untuk konsumsi keluarga.

Di wilayah Fouta Djallon banyak tumbuh pisang, buah jeruk, dan nanas. Wilayah perbukitan juga cocok untuk ditanami kopi.

Dengan penghuni suku Fulani yang merupakan suku penggembala selama berabad-abad, wilayah Fouta Djallon juga merupakan daerah peternakan sapi.

Suku Fulani dan ternak sapinya juga ditemukan di wilayah Guinea Hulu yang para petaninya menanam kacang tanah, tembakau, kapas, dan biji-bijian untuk didagangkan.

Di samping itu, mereka juga menanam singkong dan padi-padian untuk konsumsi keluarga. Di wilayah Dataran Tinggi Guinea jarang terdapat pertanian. Kacang kola ditanam dalam jumlah yang kecil, sedangkan kopi dan tembakau juga ditanam.

Mineral

Mineral Guinea terpenting adalah boksit, berlian, dan bijih besi. Berlian itu terutama adalah hasil berbagai jenis industri-jarang di antaranya yang merupakan batu permata.

Bijih boksit, yang digunakan untuk membuat aluminium, terdapat dalam endapan yang kaya, yang terpenting di antaranya terdapat di kota Fria, sekitar 140 km dari Konakri.

Di kota Fria ini, boksit digunakan untuk membuat alumina yang lalu diekspor ke berbagai penyulingan aluminium di seluruh dunia. Endapan bijih besi yang banyak kini sedang digarap di tambang bijih besi di Semenanjung Kaloumn, di sekitar Beyla dan Kerouane, dan di Pegunungan Nimba.

Transportasi

Transportasi di Guinea tidak berkembang dengan baik meskipun jaringan jalan raya kini meliputi sebagian besar wilayah negara. Jalan raya utama, yang bermula di Konakri, memanjang ke Kankan, di Sungai Niger, sejauh 640 km.

Jaringan jalan raya lainnya menghubungkan daerah pertambangan utama dengan Konakri. Bandara internasional terletak di Konakri dan Kankan.

Sejarah dan Pemerintahan Guinea

Cekung Niger Hulu, yang meliputi Guinea Hulu, adalah sebagian dataran benua yang terletak di selatan Sahara, di wilayah inilah berbagai kerajaan Afrika tumbuh dan berkembang.

Di abad ke-11, bangsa Arab memasuki wilayah Sudan dari Afrika utara. Sejak itu, orang percaya bahwa beberapa kerajaan pernah muncul di wilayah ini.

Beberapa di antaranya pernah terkenal-seperti Kerajaan Ghana, Mali, dan Gao. Dalam waktu yang berbeda, wilayah Fouta Djallon menjadi bagian berbagai kerajaan ini.

Bangsa Portugis memasuki wilayah ini di sekitar abad ke-14 untuk kemudian mereka tidak mendirikan permukiman tetap. Bangsa Prancis mendirikan pos-pos dagang di sepanjang pantai Atlantik daratan Senegal. Mereka mengembangkan perdagangan pada tahun 1850-an.

Ketika memasuki pedalaman, mereka mendapatkan tantangan dari kerajaan yang diciptakan oleh Samory Touré. Samory, anak seorang pedagang membangun kerajaannya berdasarkan pemikiran militer dan politik yang bijaksana.

Menjelang tahun 1875, dia berhasil menegakkan kekuasaannya atas beberapa kesukuan di wilayah Cekung Niger Hulu. Menjelang tahun 1886, dia telah meluaskan kerajaannya meliputi seluruh dataran tinggi Guinea, sebagian Mali, dan Pantai Gading.

Ketika bangsa Prancis memasuki wilayah ini, Samory dan rakyatnya melawan mereka. Samory memimpin suatu perlawanan yang berani, tetapi pasukannya terlalu kecil sehingga harus mengundurkan diri.

Selagi bangsanya mengalami kemunduran, bangsa Prancis berhasil me naklukkan banyak rakyat di daerah timur.

Menjelang tahun 1896, kerajaan Samory Toure lenyap dari sebagian besar Guinea. Namun, dia dapat mempertahankan hampir seluruh wilayah bagian utara Pantai Gading, barat laut Ghana, dan bagian selatan Burkina.

Pada tahun 1898, dia ditangkap oleh Prancis dan dibuang ke suatu pulau lepas pantai Gabon, tempat dia meninggal dua tahun berikutnya.

Samory Touré tetap menjadi tokoh sejarah penting di dalam Guinea modern. Kejayaannya selalu dikenang oleh rakyat. Setelah kematian Samory Touré, sejarah Guinea adalah sebagai bagian koloni Prancis di Afrika Barat.

Hingga akhir Perang Dunia II, kebijakan Prancis menekankan pada perbedaan antar kelompok etnik di Guinea dengan banyak kelompok etnik Afrika Prancis lainnya.

Tahun-tahun sebelum perang terjadi, rasa persatuan mulai muncul di antara orang Afrika yang terdidik-rasa sebagai orang Afrika. Muncullah partai politik yang menekankan pada persamaan antar orang Afrika ketimbang menekankan pada perbedaan antarkelompok etnik.

Pemimpin partai ini adalah Sékou Toure’, yang berulang kali menekankan bahwa semua manusia adalah bersaudara dan bahwa semua manusia adalah sederajat.

Dia berkata kepada rakyatnya, “Saya adalah seorang manusia seperti kalian juga dan saya pun orang Afrika”. Dengan menggunakan pendekatan semacam ini, Partai Demokratik Guinea (Parti Democratique de Guinee, atau PDG) segera muncul sebagai gerakan politik yang penting dan mulai menuntut kemerdekaan bagi negerinya.

Kemerdekaan ini diperoleh pada tanggal 2 Oktober 1958, setelah rakyat di bawah kepemimpinan PDC, menolak bergabung dengan Prancis. Sékou Touré menjadi presiden pertama Republik Guinea.

Selama 25 tahun, Sékou Touré mengubah negaranya menjadi Republik Revolusioner Rakyat Guinea. Secara resmi, Guinea berbentuk republik, dengan presiden dan badan legislatif satu kamar, atau Dewan Nasional, yang dipilih oleh rakyat.

Namun, dalam praktiknya, Guinea menjadi apa yang oleh para ahli disebut, negara di bawah satu-partai. Di negara ini hanya terdapat satu partai politik yang sah, yaitu Partai Demokratik Guinea, yang anggotanya dimobilisasi dari sebanyak mungkin rakyat untuk berpartisipasi dalam kehidupan politik.

Pemerintah mengambil peranan yang penting di bidang ekonomi melalui lembaga-lembaga pemerintah dan program jangka panjang.

Tanpa oposisi Touré dipilih yang ke-4 kalinya sebagai presiden yang berjangka waktu 7 tahun di bulan Mei 1982. Konstitusi baru pun disetujui pada bulan yang sama.

Tanggal 26 Maret 1984. Touré meninggal akibat serangan jantung. Hanya seminggu kemudian, tatkala Partai Demokratik Guinea akan memilih seorang presiden baru, kaum militer melakukan kudeta.

Konstitusi tidak diberlakukan dan pemerintahan dipegang oleh Komite Militer Regenerasi Nasional (CMRN) yang diketuai Jenderal Lansana Conté sebagai kepala negara.

Konstitusi baru yang disahkan tahun 1990 menetapkan CMRN diganti dengan Dewan Transisi Nasional untuk melaksanakan peralihan ke arah demokrasi multi partai. Conté memenangkan pemilihan presiden yang diadakan bulan Desember 1993.