Libanon

Walaupun merupakan salah satu negara terkecil di dunia, Libanon telah menjadi pentas berbagai peristiwa penting sejak zaman purba. Nama 18 pria besar dalam sejarah, yang memasuki negeri ini untuk menaklukkan atau ditaklukkan, terukir di atas sebuah karang di muara Sungai Dog, di sebelah utara Beirut.

Di antara nama itu adalah Ramses II dari Mesir, Nebuchadnezzar dari Babilonia, Iskandar yang Agung, dan Kaisar Romawi Caracalla. Inskripsi ke-19 dan terakhir, yang diukir pada tahun 1946, adalah untuk memperingati kemerdekaan Libanon.

Di bawah bangsa Funisia yang merupakan penduduk Libanon purba, negeri ini mempunyai suatu posisi unik sebagai suatu bangsa pedagang dan pelaut. Libanon modern juga mendapat posisi unik karena perdagangannya, standar hidup dan pendidikannya yang pada umumnya tinggi, dan peranannya dalam banyak peristiwa dunia.

Namun, suatu perang saudara, yang meletus pada tahun 1975, membagi negara ini, menyebabkan kerusakan dan korban jiwa yang besar, serta membahayakan perdamaian di wilayah ini.

Geografi Libanon

Libanon terbentang dari utara ke selatan sepanjang pantai timur Laut Tengah. Berbeda dengan kebanyakan tetangganya di Timur Tengah, negara ini tidak mempunyai padang pasir. Jajaran gunung yang sejajar membentang menyusuri panjang negara ini.

Jajaran barat, yaitu pegunungan Libanon, menjulang di dekat laut, dengan hanya meninggalkan dataran pantai yang sempit. Gunung-gunung mencapai ketinggian lebih dari 3.000 m. Jajaran timur, yaitu pegunungan Anti Libanon, hampir sama tingginya. Di antara kedua barisan gunung ini terdapat lembah Bekaa suatu dataran tinggi yang subur.

Aneka ragam pemandangan alam dimiliki negeri ini. Teluk-teluk memutuskan garis pantai dan di beberapa tempat gunung-gunung menyentuh laut. Di sebelah utara, di Gunung al-Mukammal, sebuah hutan kecil merupakan sisa pohon cedar Libanon kuno yang anggun, yang oleh bangsa Funisia dipakai membuat perahu mereka dan oleh Raja Sulaiman dipakai membangun Kanisahnya pada abad ke-10 sebelum Masehi.

Sampai kini pohon cedar tetap menjadi lambang Libanon yang tampak pada bendera, uang logam, dan prangkonya.

Di Baalbek terdapat puing-puing tiang Romawi yang menjulang tinggi ke angkasa. Sekarang Baalbek merupakan pentas festival musik, tarian, dan teaterbinatang. Di sepanjang pantai benteng-benteng perkasa para tentara Perang Salib mengingatkan kembali akan para kesatria yang pernah berdiam disana.

Peta wilayah Libanon

Selengkapnya bisa anda baca di: Peta Libanon atau google map

Ekonomi Libanon

Libanon memiliki sedikit sumber alam. Namun, menjelang meletusnya perang saudara, energi dan industri penduduknya telah memberinya suatu standar hidup yang pada umumnya tinggi. Perdagangan dan turisme bersama asuransi, perusahaan perumahan, dan perusahaan perbankan-menghasilkan sebagian besar pendapatan nasional.

Pertanian juga penting, terutama di Lembah Bekaa yang subur. Dari udara lembah itu terlihat bagaikan permadani luas dengan aneka warna hijau, yang masing-masing menunjukkan warna tanamannya gandum, jewawut, jagung, alfalfa, ataupun kentang.

Pada tahun-tahun belakangan ini kebun buah-buahan, peternakan ayam, dan perusahaan susu diperkenalkan di daerah ini. Karena langkanya tanah pertanian yang datar, para petani dengan sabar telah membuat teras di lereng-lereng bukit yang curam dan kaki-kaki bukit yang lebih rendah dan menanaminya dengan pohon ara dan pohon anggur.

Bukit-bukit yang rendah, lembah-lembah, dan dataran pantai dipenuhi dengan pohon zaitun, yang memberi para petani buah dan minyak zaitun, makanan pokok mereka. Juga pada dataran pantai, terdapat banyak pohon jeruk, sitrun, pisang, dan kurma.

Industri berkembang maju di wilayah itu. Terdapat penyulingan minyak yang penting di kota Saida (Sidon) dan Tripoli. Industri-industri penting lainnya adalah pemrosesan pangan, tekstil dan benang, mebel, pemrosesan kayu, semen, keramik, dan farmasi.

Rakyat Libanon

Rakyat dari setiap negara dan kelompok Timur Tengah terdapat di Libanon. Para imigran belakangan ini meliputi para pengungsi Palestina dan bangsa Suriah. Bahasa nasionalnya adalah bahasa Arab, tetapi bahasa Prancis dan Inggris dipakai secara luas.

Dalam dua kelompok agama yang utama, Islam dan Kristen, terdapat banyak kelompok masyarakat yang terkenal. Sebagian besar kaum Muslimin termasuk kelompok Islam Suni atau Syiah. Juga terdapat banyak kaum Druz, yang agamanya adalah campuran dari Islam dan berbagai kepercayaan lain.

Sebagian besar umat Kristen termasuk Gereja Maronit, salah satu Gereja Katolik Timur, sedangkan yang lain termasuk Gereja Ortodoks Timur. Terdapat juga sejumlah besar bangsa Palestina yang hidup di kam-kam pengungsian. Sensus belum pernah diadakan sejak tahun 1932, pada saat itu umat Kristen menunjukkan suatu mayoritas di Dewan Perwakilan (sekarang disebut Dewan Nasional).

Sejak saat itu, kaum Muslimin, yang sekarang diperkirakan menjadi mayoritas karena meningkat lebih cepat daripada orang Kristen, menghendaki kekuasaan politik yang lebih besar. Seluruh penduduk, yang diperkirakan berjumlah 3.100.000 pada tahun 1974, sejak tahun 1975 diperkirakan telah menurun dengan jumlah yang cukup banyak karena perang saudara yang lama dan pahit itu.

Makanan sehari-hari di Libanon meliputi daging anak biri-biri, ayam, ikan, nasi, biskuit, gandum, buah zaitun, berbagai buah-buahan, dan roti bulat ceper. Kibbeh, yang dibuat dari gandum tumbuk dan daging atau ikan yang dihancurkan bersama dan dihidangkan masak atau mentah, dianggap sebagai makanan nasional.

Beirut

Sebelum dihancurkan oleh perang saudara, Beirut merupakan kota yang sangat sibuk. Rakyat dari pegunungan dan dataran Libanon memenuhi trotoarnya bersama dengan para raja dunia dagang, cendekiawan Beirut, para syekh raja minyak dari negara Arab lain, dan para turis.

Kota Beirut Libanon

Dari bandara Beirut, persinggahan utama antara Eropa dan Asia, sebuah bulevar pantai yang luas berkelok-kelok di antara pesisir dan hotel mewah yang ultramodern dan rumah-rumah apartemen sampai ke tengah kota Beirut, dengan jalan-jalan kunonya yang sempit yang dahulu selalu penuh dengan mobil dari setiap negara.

Beirut selanjutnya menjadi pusat keuangan Timur Tengah. Banyak firma bisnis Amerika dan Eropa mempunyai kantor di sana. Untuk membantu transaksi bisnis, sejumlah besar bank tempatan beroperasi di samping bank-bank asing.

Kehidupan di Desa

Pegunungan merupakan dunia yang berbeda. Dengan bergantung kepada lokasi mata air, desa-desa bertengger di tepi-tepi pegunungan atau bersarang dalam lembah-lembah yang sempit.

Setiap desa mempunyai jati dirinya masing-masing-baik yang berdasarkan agama, ukuran, maupun jaraknya dari Beirut. Dibangun dari batu kapur lokal, rumah-rumah desa tradisional berukuran kecil dan beratap rata. Beberapa rumah yang lebih baru berukuran lebih besar, beratap genting merah, dan berjendela melengkung.

Sebelum perang, orang dari Baghdad sampai Kairo memanfaatkan liburan musim panas mereka di desa-desa pegunungan yang sejuk. Banyak kelompok masyarakat modern mempunyai vila, hotel, klub malam, kolam renang, dan televisi.

Di lereng-lereng yang lebih tinggi terdapat tempat bermain ski. Pakaian Barat dapat dijumpai baik di desa maupun di ibu kota. Namun, permukiman kaum Druz dan orang Islam lain yang lebih terpencil tetap memelihara adat-istiadat dan tradisi kuno mereka.

Kecuali sifat individualitas desa-desa itu, penduduk pegunungan yang berwajah kasar, merah segar, mempunyai tabiat yang sama. Mereka hidup sederhana dan bekerja keras. Mereka juga sama-sama mencintai secara mendalam tanah yang oleh para leluhur mereka telah dengan sabar diolah dan diteras untuk mereka.

Pemilikan tanah sendiri, ketimbang bekerja sebagai petani penyewa, menambah kebanggaan dan loyalitas mereka yang tinggi kepada tanah dan desa mereka. Bersama dengan semangat kebebasan mereka, rakyat Libanon tetap menghidupkan tradisi-tradisi keramahtamahan dan kebiasaan suka menerima tamu.

Pendidikan

Suatu tingkat melek huruf yang tinggi menunjukkan adanya rasa hormat yang mendalam bagi pendidikan. Semua anak sedikitnya harus mengalami 5 tahun sekolah dasar, baik di sekolah pemerintah maupun di sekolah swasta. Di sana juga terdapat sekolah pemerintah dan sekolah swasta pada peringkat menengah dan universitas.

Sejarah dan Pemerintahan Libanon

Peradaban yang paling awal di Libanon adalah peradaban bangsa Funisia, yang mengembangkan sistem menulis abjad pertama. Pada masa jaya bangsa Funisia (dari abad ke-12 sampai ke-9 sebelum Masehi) negara-negara kota yang besar berkembang Arwad, Byblos (dari nama ini lahir kata ‘bibel’), Sidon, dan Tirus.

Dari negara-negara kota ini, bangsa Funisia berlayar ke arah barat dengan kapal-kapal mereka yang bergeladak ganda dengan membawa komoditi perdagangan-seperti buah-buahan, gelas, permata, serta wol dan kain linen berwarna ungu. Pencelup berwarna ungu itu diekstrak dari kerangkerangan, yaitu murex, yang ditemukan di sepanjang pantai.

Kemudian suatu pergantian kekuasaan dari bangsa Assiria kepada bangsa Persia lalu kepada bangsa Yunani di bawah Iskandar yang Agung terjadi atas negara-negara kota itu. Kontak dengan Barat memasuki suatu fase baru dengan terjadinya pendudukan Romawi, yang dimulai pada tahun 64 sebelum Masehi.

Reruntuhan candi di Baalbek di Libanon
Reruntuhan candi yang didirikan oleh bangsa Romawi di Baalbek. Pendudukan Romawi atas Libanon bermula pada tahun 64 Sebelum Masehi berlangsung selama beberapa abad.

Di bawah Kekaisaran Romawi negara itu menikmati beberapa abad perdamaian dan kemakmuran. Menjelang abad ke-4 agama Kristen muncul sebagai agama yang menang. Pada abad ke-7 kaum Muslimin membawa agama baru-yaitu Islam dari jazirah Arab.

Libanon menjadi bagian dari Kekaisaran Turki Usmani pada tahun 1516 dan masih tetap di bawah kekuasaan Islam selama hampir 400 tahun. Namun, dengan pangeran-pangerannya sendiri yang mampu, Libanon mengatur urusan-urusan politik dan ekonominya dengan bebas. Kesulitan antara kaum Kristen dan Druz mengarah kepada suatu perang saudara pada tahun 1860.

Kemerdekaan

Ketika pertikaian berlanjut, orang Kristen mulai beremigrasi ke Brasilia, Amerika Serikat, dan negara-negara lain. Setelah Perang Dunia I, kekuasaan Turki Usmani atas Libanon berakhir dan negeri itu menjadi sebuah mandat Prancis di bawah Liga Bangsa-Bangsa.

Pada tahun 1925 Libanon menjadi suatu republik berkonstitusi walaupun Prancis tetap memegang beberapa kekuasaan. Kekuasaan itu diakhiri oleh perubahan konstitusi pada tahun 1943 dan Libanon menjadi merdeka penuh pada tanggal 22 November.

Sesuai dengan perjanjian tidak tertulis, presiden harus seorang Kristen Maronit, perdana menteri seorang Muslim Suni, dan Ketua DPR seorang Muslim Syiah.

Perimbangan yang bagus di antara kaum Kristen dan Muslim ini menjadi rusak ketika diciptakan negara Israel dalam tahun 1948. Bahasa Arab dan penduduk Muslim yang berkembang pesat membuat Libanon semakin dekat ke dunia Islam yang lebih besar, sedangkan kaum Kristen cenderung berpaling ke Barat.

Pada tahun 1958, revolusi tampaknya sudah dekat, tetapi perdamaian pulih kembali tanpa kekuatan bersenjata setelah Amerika Serikat mengirimkan angkatan lautnya ke sana. Pemerintah Libanon yang didominasi Kristen mencoba mempertahankan suatu posisi Arab moderat dalam Perang Arab-lsrael tahun 1956, 1967, dan 1973.

Namun, kebijakan ini ditentang keras oleh Muslim, yang sekarang menjadi mayoritas. Kehadiran para pengungsi Palestina di kam-kam Libanon, semakin memperumit perjuangan kekuatan Kristen-Islam. Situasi itu memburuk ketika Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) menjadikan Beirut markas besar mereka dan tempat melancarkan serangan melawan Israel.

Perang saudara

Perang saudara sepenuhnya meletus pada tahun 1975 sehingga, pada tahun 1976, Suriah mengirimkan pasukannya untuk melerai kelompok yang sedang berperang dan lalu tinggal di sana untuk memainkan perannya di Libanon.

Israel menyerang basis-basis gerilya PLO di Libanon pada tahun 1978, menarik diri kembali, dan kemudian menduduki negara itu lagi pada tahun 1982. Pasukan Israel menduduki wilayah selatan, termasuk Beirut, dan dari sana mereka mengusir PLO.

Seorang pemimpin Kristen, Bashir Gemayel, yang terpilih menjadi presiden Libanon pada tahun 1982, terbunuh pada tahun yang sama. (Dia digantikan oleh saudaranya, Amin.) Dalam pembalasannya, milisi Kristen menyerang dua kam pengungsi Palestina dan membunuh ratusan warga sipil.

Pada tahun 1983, serangan teroris Muslim menyebabkan jatuh korban yang banyak sekali di antara marinir AS dan pasukan Prancis, yang merupakan bagian dari pasukan pengawas perdamaian multinasional di Beirut.

Setelah pasukan-pasukan terakhir Israel meninggalkan negeri ini pada tahun 1985, Suriah mencoba mengakhiri perang saudara itu dengan membentuk pemerintahan Muslim dan Kristen. Perjanjian damai atas prakarsa Arab tercapai pada Oktober 1990 setelah menyerahnya perdana menteri Kristen, Jendral Michel Aoun. Siria dan Libanon menandatangani perjanjian kerja sama pada Mei 1991.

Pada 1992 Libanon mengadakan pemilu pertamanya sejak 20 tahun lalu. Pemerintahan dilantik dan Libanon mulai membangun negeri. Namun tentara Suriah tetap bertahan di sana, dan Israel terus melancarkan serangan udara terhadap gerilyawan Muslim di Libanon Selatan.

Terkait Libanon

Diulas oleh:
VIOLA H. WINDER, Penulis, The Land and People of Libanon.
Editor: Sejarah Negara Com

Artikel Terkait