Tonga, Negara 150 Pulau

Tonga adalah sebuah kerajaan yang menjadi negara merdeka sepenuhnya pada bulan Juni 1970 setelah 70 tahun berstatus sebagai negeri yang dilindungi oleh Inggris. Kerajaan yang terdiri atas kira-kira 150 pulau dan pulau kecil ini terletak di sebelah tenggara Kepulauan Fiji dan sebelah baratdaya Kepulauan Samoa. Negara ini hanya memiliki wilayah seluas 700 km2.

Tonga terbagi menjadi tiga kelompok utama: Vava’u di sebelah utara; Ha’apai di tengah; dan Tongatapu di sebelah selatan. Walaupun demikian, secara geografi, Tonga terdiri atas dua formasi sejajar yang nyaris berdempet.

Keduanya semula vulkanis, tetapi deretan bagian timur telah tenggelam sehingga pulau-pulaunya rendah dan tertutup koral, sedangkan pulau pada deretan lainnya merupakan pulau-pulau yang tinggi dengan tanah vulkanis yang lebih subur.

Tonga, Negara 150 Pulau

Penduduk dan Sejarah Tonga

Sebagian besar dari kira-kira 83.000 orang Tonga adalah bangsa Polinesia Nenek moyang orang Tonga tiba di kepulauan itu pada awal-awal abad Masehi. Kemungkinan mereka merupakan bagian dari kelompok pertama bangsa Polinesia yang bermigrasi.

Tonga adalah salah satu kerajaan tertua di Pasifik. Menurut tradisi, tu’i tongas, raja spiritual Tonga, berasal dari abad ke-10. Pengaruh tu’i cukup luas dan nampaknya meluas sampai ke daerah Polinesia lainnya.

Tonga pertama kali ditemukan oleh orang Eropa pada tahun 1643, yaitu ketika penjelajah berbangsa Belanda Abel Tasman mendarat di Tongatapu. Kapten laut Inggris dan Spanyol menyusul.

Salah satu di antaranya, yaitu orang Inggris abad ke-18, Kapten James Cook, begitu terkesan dengan keramahtamahan penduduk sehingga ia menyebut kelompok pulau mereka sebagai kepulauan yang ramah, suatu nama yang kadang-kadang masih digunakan.

Pengunjung terkenal lainnya adalah Kapten Bligh dari kapal HMS Bounty. Pemberontakan yang terkenal terjadi selama Bounty berada di perairan Tonga.

Para misionaris Kristen melakukan dua usaha yang tidak berhasil untuk bertahan di kepulauan itu, pertama kali pada tahun 1797, kemudian pada tahun 1822. Pada kedua masa itu mereka dipaksa meninggalkan kepulauan itu.

Akhirnya, pada awal tahun 1830, persekutuan terbentuk antara para misionaris dengan salah satu kepala suku. Kepala suku itu menerima bantuan dari misionaris yang membekalinya dengan barang-barang Eropa yang berguna, termasuk senjata dan amunisi.

Sebagai imbalannya, kepala suku itu menyatakan memeluk agama Kristen dan memahami agama itu sehingga pandangan pribadinya juga berubah. Kepala suku ini menjadi pemimpin yang diakui, muIa-mula dalam daerah kelompok Ha’apai sendiri, kemudian di kelompok Vava’u, dan akhirnya di kelompok Tongatapu.

Pada tahun 1845 dia menjadi penguasa seluruh Kepulauan Tonga sebagai Raja George Tupou.

Raja George memerintah hingga kematiannya pada tahun 1893. Selama 10 tahun terakhir dari masa pemerintahannya kerajaan pulaunya dikoyak oleh perselisihan agama.

Dengan dibantu oleh pendeta Shirley Baker, salah seorang misionaris yang terkemuka, Raja George memisahkan diri dari Gereja Wesley atau Metodis dan membentuk gerejanya sendiri yang terpisah dan merdeka. Gereja bebas Wesley Tonga.

Dengan Baker yang memerintah sebagai perdana menteri, segera terdengar sampai ke dunia luar desas-desus mengenai perselisihan agama di kepulauan itu. Terdapat pengaduan bahwa banyak orang dihukum dan dibuang secara tidak adil dan bahwa tanah miliknya disita karena mereka menolak untuk bergabung dengan gereja baru sang Raja.

Persoalan itu baru terselesaikan ketika, setelah dilakukan penyelidikan oleh para pegawai Inggris di Fiji, Raja George berhasil dibujuk untuk memecat Baker dari jabatannya sebagai perdana menteri.

Perjumpaan awal Tonga dengan misi agama Kristen terpancar dalam kehidupan sosial dan budayanya pada masa sekarang. Praktik dan nilai kekristenan memiliki akibat yang mendalam terhadap semua orang Tonga.

Gereja-gereja secara tetap dihadiri dengan baik. Hari Minggu sabat diawasi secara ketat. Menurut undang-undang dasar negara Tonga, orang tidak dibenarkan bekerja, bermain olahraga, atau berdagang pada hari Minggu.

Pengaruh gereja Kristen juga meluas sampai ke bidang pendidikan, misalnya. Gereja mengelola 50 sekolah dari 129 sekolah dasar negeri dan 41 sekolah dari 44 sekolah lanjutan.


Pemerintahan Tonga

Pemerintahan negara Tonga merupakan suatu campuran dari unsur bangsa Polinesia dan bangsa Eropa. Raja memerintah rakyatnya dengan landasan suatu konstitusi yang menghubungkan demokrasi dengan kaum ningrat tradisional bangsa Polinesia.

Badan eksekutif utama adalah Dewan Penasehat Kerajaan. Raja memimpin Dewan, yang diangkat olehnya sendiri. Tugas Dewan itu adalah memberikan nasehat kepada raja.

Dewan legislatif negara Tonga dipimpin oleh seorang juru bicara yang diangkat oleh raja. Dewan legislatif itu terdiri atas tujuh orang penasehat kerajaan, tujuh orang bangsawan Tonga, dan tujuh orang yang dipilih untuk mewakili rakyat.


Ekonomi Tonga

Sebagian besar orang Tonga mendapatkan mata pencahariannya dari lahan. Setiap lelaki Tonga, setelah ia mencapai usia 16 tahun, berhak mendapat 3,4 hektar tanah buat bercocok tanam dan sebidang kecil tanah di kota untuk mendirikan rumahnya. ‘

Tonga memiliki dua produk ekspor yang penting-kopra dan pisang. Walaupun demikian, negara itu selalu mengimpor lebih banyak daripada yang diekspor. Dalam usaha mencari landasan ekonomi yang akan menolong Tonga memecahkan masalah neraca perdagangan yang tidak menguntungkan ini, suatu rencana pembangunan untuk meningkatkan ekspor dimulai pada tahun 1965.

Dalam rencana pembangunan 5 tahun akhir-akhir ini fokus ditekankan pada proyek-proyek jangka panjang dalam pendidikan, kesehatan, komunikasi, pertanian, perikanan, dan pemanufakturan.

Cara lain yang diharapkan oleh pemerintah untuk mempromosikan pembangunan kerajaan kecil ini adalah melalui pengenalan industri pariwisata. Sebuah hotel modern telah didirikan di Nuku’alofa.

Kapal-kapal layar secara tetap berkunjung sebentar di sana dan terdapat pelayanan penerbangan yang dijadwalkan ke Fiji, Samoa, dan Auckland di Selandia Baru.


Masa Depan

Tonga adalah suatu negara kecil. Penduduknya berkembang demikian pesat sehingga sekarang terjadi kesulitan untuk mengadakan pembagian tanah buat orang-orang muda dan hal ini bahkan tidak lama lagi akan menjadi tidak mungkin dilaksanakan.

Lebih parah lagi adalah bahwa di negara itu tidak tersedia kesempatan kerja lain pada waktu sekarang.

Namun, kualitas kepemimpinan Tonga serta keberhasilan peleburan adat istiadat dan institusi tradisional Polinesia dengan lembaga-lembaga kehidupan modern masih memberikan harapan bagi masa depan kerajaan Pasifik yang kecil ini.


Diulas oleh:
JOHN MILES, Pegawai Senior Urusan Politik, Perserikatan Bangsa-Bangsa
Editor: Sejarah Negara Com