Sejarah Kerajaan Mataram Islam lengkap berdiri hingga kemundurannya

Peta wilayah Mataram Islam

Sejarah Berdirinya

Menurut Abdullah, dkk (2012) Mataram merupakan daerah daerah yang subur, terletak diantara kali opak dan kali progo yang mengalir ke Samudera Hindia. Pada awalnya Mataram merupakan salah satu daerah kekuasaan Kerajaan Pajang yang kemudian daerah tersebut dihadiahkan kepada Ki Ageng Pamanahan atas jasanya karena membantu Sultan Adiwijaya mengalahkan Ario Panangsang. Ditempat inilah Ki Ageng Pamanahan mendirikan Keraton pada tahun 1578.

Raja-Raja Mataram Islam

Setelah Ki Gede Pamanahan wafat digantikan oleh putranya yaitu Sutawijaya. Dibawah pemerintahanya kerajaan Pajang jatuh ke tangannya sehingga ia segera memindahkan pusat Kerajaan Pajang ke Mataram. Sutawijaya sebagai raja pertama dengan gelar: Panembahan Senapati Ing Alaga Sayidin Panatagama. Pusat kerajaan berada di Kota Gede, sebelah tenggara Kota Yogyakarta sekarang.

Menurut Asnawi (2020) Penggunaan gelar Sayyidin panatagama oleh Senopati menunjukkan bahwa sejak awal berdirinya Mataram telah dinyatakan sebagai kerajaan Islam. Raja berkedudukan sebagai Pemimpin dan pengatur agama, kerajaan Mataram menerima agama dan peradaban Islam dari kerajaan-kerajaan Islam pesisir yang lebih tua.

Pada masa pemerintahan Sutawijaya Mataram memperluas kekuasaannya ke daerah sekitarnya termasuk daerah pesisir utara kemudian juga ke daerah-daerah di Jawa bagian timur dan barat. Bahkan Kerajaan Pajang juga berada dibawah kekuasaan Mataram dan menjadi Kadipaten yang diperintah oleh Pangeran Benowo yang merupakan putra Sultan Adiwijaya.

Setelah Panembahan Senopati wafat pada tahun 1601 M, ia digantikan oleh Mas Jolang, putra dari selir yang berasal dari Pati. Yang memerintah dari tahun 1601-1613, ia menyempurnakan pembangunan kotagede, termasuk pembangunan Taman Danalaya, kolam (Segaran) dan kompleks pemakaman kotagede.

Pangeran Jolang meninggal di tempat perguruan atau Krapyak pada tahun 1613 sehingga ia dikenal dengan gelar Panembahan Seda ing Krapyak. Kemudian ia digantikan oleh pangeran Jatmiko yang merupakan cucu dari Panembahan Senopati.

Baca juga: Mengapa Mataram pecah menjadi 4?

Pangeran Jatmiko juga dikenal dengan nama Raden Mas Rangsang dan setelah menjadi Sultan Mataram. Ia dikenal dengan nama Sultan Agung Senopati ing alogo yang memerintah Mataram sekitar tahun 1613-1645. Pada masa pemerintahan Sultan Agung inilah Mataram Islam mencapai kejayaan.

Sultan Agung Raja Mataram Islam

Menurut Abdullah, dkk (2012), dalam bidang politik, Sultan Agung melakukan penaklukan terhadap daerah Surabaya pada tahun 1625 kemudian daerah Pati, Giri, dan Blambangan. Selain itu Mataram juga mengadakan hubungan dengan VOC di Batavia yang sudah dirintis pada masa pemerintahan Mas jolang.

Tetapi hubungan tersebut mulai memburuk pada tahun 1624, Sultan Agung menganggap VOC berusaha meluaskan kolonialismenya yang dapat mengancam kekuasaan politik Kesultanan Mataram. Kemudian Mataram mengirimkan pasukan di bawah pimpinan para panglimanya yaitu Tumenggung Bahurekso dan Tumenggung Suro Agul-Agul untuk mengepung dan mengusir VOC di Batavia pada tahun 1628 tetapi serangan tersebut mengalami kegagalan, kemudian penyerangan diulangi lagi pada tahun 1629 tetapi mengalami kegagalan yang serupa.

Menurut Asnawi (2020) dalam bidang ekonomi, Sultan Agung membuat kebijakan yang terdiri dari 3 macam diantaranya:

  1. Meningkatkan pertanian dengan mendistribusikan tanah, membangun Bendungan beserta saluran airnya dan intensifikasi tanaman padi disertai pemberian modal untuk memperbanyak produksi beras dalam pertanian.
  2. Membentuk petugas pajak dan menentukan besaran pajak yang harus diserahkan kepada kerajaan.
  3. Membentuk lembaga keuangan yang mengurusi segala pemasukan untuk kas kerajaan. Pemasukan kekayaan kerajaan didapat melalui aktivitas perekonomian yang ditarik dari pajak yaitu pajak penduduk, pajak tanah, pajak upeti, dan pajak Bea Cukai barang dan jasa dari kegiatan perdagangan.

Selain itu, Kerajaan Mataram Islam berkembang menjadi kerajaan yang bersifat agraris. Di bawah pemerintahan Sultan Agung, Mataram mengembangkan perdagangan ekspor dan impor melalui pelabuhan di pesisir utara Jawa seperti Jepara, Kendal, dan Tegal.

Sultan Agung juga melakukan Pembangunan seperti mempersiapkan pendirian pusat kota di barat dan membangun Kompleks pemakaman di Girilaya dan Bukit Merak yang mulai dibangun pada tahun 1632 yang kemudian dinamakan Imogiri.

Dalam bidang keagamaan Sultan Agung melakukan perimbangan antara Islam dan juga Hindu. Ia memperbarui perhitungan kalender Jawa dengan menyelaraskan perhitungan tahun Hijriah dengan tahun Saka. Sistem penanggalan ini yang hingga sekarang oleh masyarakat Jawa dikenal dengan Penanggalan Jawi yang diresmikan pada tahun 1555 Saka atau 1633 Masehi.

Dalam Bidang kebudayaan juga maju pesat. Seni bangunan, ukir, lukis, dan patung mengalami perkembangan. Kreasi-kreasi para seniman, misalnya terlihat pada pembuatan gapura-gapura, serta ukir-ukiran di istana dan tempat ibadah. Seni tari yang terkenal adalah Tari Bedoyo Ketawang.

Sultan Agung memadukan unsur-unsur budaya Islam dengan budaya Hindu-Jawa. Sebagai contoh, di Mataram diselenggarakan perayaan sekaten untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad saw, dengan membunyikan gamelan Kyai Nagawilaga dan Kyai Guntur Madu. Kemudian juga diadakan upacara Grebeg.

Menurut Adhim (2012) Upacara Grebeg pada awalnya adalah upacara pemujaan terhadap roh nenek moyang tradisi tersebut dilaksanakan dengan melakukan kenduri gunungan tetapi pada perkembangannya kemudian disesuaikan dengan agama Islam tujuannya agar masyarakat dapat menerima ajaran Islam tanpa meninggalkan kebudayaan mereka.

Upacara Grebeg diadakan tiga kali dalam satu tahun, yaitu setiap tanggal 10 Dzulliijah (Idul Adha), 1 Syawal (Idul Fitri), dan tanggal 12 Rabiulawal (Maulid Nabi). Bentuk dan kegiatan upacara grebeg adalah mengarak gunungan dari keraton ke depan masjid agung.

Gunungan biasanya dibuat dari berbagai makanan, kue, dan hasil bumi yang dibentuk menyerupai gunung. Upacara grebeg merupakan sedekah sebagai rasa syukur dari raja kepada Tuhan Yang Maha Esa dan juga sebagai pembuktian kesetiaan para bupati dan punggawa kerajaan kepada rajanya.

Menurut Amarseto (2017) Pada masa pemerintahan Sultan Agung wilayah kerajaan Mataram hampir meliputi seluruh pulau Jawa wilayah Kerajaan dibagi menjadi dua yaitu wilayah pusat dan mancanegara.

Wilayah Pusat:

A. Kuta negara (kutagara) sebagai pusat pemerintahan dengan pusatnya adalah istana atau keraton yang berkedudukan di ibukota kerajaan.

B. Negara Agung, merupakan wilayah yang mengitari kutanegara menurut serat pustaka raja Purwa wilayah negara Agung dibagi menjadi empat daerah dan masing-masing daerah dibagi menjadi dua bagian, yaitu:

  • Daerah kedu dibagi menjadi Siti bumi dan Bumijo yang terletak di sebelah barat dan timur sungai Progo.
  • Daerah Siti Ageng atau Bumi gede dibagi menjadi Siti Ageng Kiwa dan Siti Ageng Tengen.
  • Daerah Bagelen dibagi menjadi Sewu yang terletak antara sungai Bogowonto dan sungai Donan di Cilacap dan Numbak Anyar yang terletak antara sungai Bogowonto dan sungai Progo.
  • Daerah pajang dibagi menjadi Panumpin yang menjadi daerah Sukowati dan Panekar.

Wilayah Mancanegara

Merupakan daerah yang berada diluar wilayah negara Agung tapi tidak termasuk daerah pantai. Mancanegara meliputi Jawa Tengah dan Jawa Timur sehingga dibagi menjadi mancanegara Timur dan mancanegara Barat.

Sedangkan wilayah kerajaan yang terletak di tepi pantai disebut Pasiran yang kemudian dibagi lagi menjadi pesisir Timur dan Pesisir Barat sebagai batas kedua daerah pesisiran adalah sungai Tedunan atau Sungai Serang yang mengalir di antara Demak dan Jepara.

Perpecahan dan Kemunduran Mataram Islam

Sultan Agung wafat di Keraton Kotagede pada tahun 1645 dan dimakamkan di Imogiri yang merupakan Kompleks makam yang dibangun oleh Sultan Agung sendiri.Kemudian ia digantikan oleh putranya yang bernama Amangkurat dengan gelar Sultan Amangkurat Senopati ing alogo ngabdurrahman sayidin panatagama atau disebut dengan Amangkurat I.

Menurut Babad Sangkala Amangkurat I memindahkan Keraton dari Kotagede ke Plered tahun 1647 M.
Amangkurat I lebih dekat dengan VOC daripada dengan masyarakat Mataram sendiri. Ia melakukan perjanjian dengan VOC sehingga Mataram harus mengakui kekuasaan politik VOC di Batavia. Kedekatan Mataram dengan VOC menyebabkan VOC semakin banyak ikut campur urusan politik Kesultanan Mataram.

Pada pemerintahan Amangkurat I timbul upaya pemberontakan yang dilakukan Pangeran Trunojoyo yang dibantu oleh pangeran Kajoran, para pejabat, serta masyarakat Mataram. Amangkurat I melarikan diri untuk meminta bantuan kepada VOC.

Baca juga: Perlawanan Trunojoyo terhadap VOC

Namun ketika sampai di Wanayasa ia jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia pada 10 Juli 1677 dan dimakamkan di daerah Tegal. Sebelum meninggal ia mengangkat Pangeran Adipati Anom sebagai penggantinya dengan gelar Sunan Amangkurat II. (abdullah, dkk. 2012)

Amangkurat II memerintah mulai tahun 1677- 1703 M. Pada masa pemerintahannya VOC akhirnya berhasil menguasai sebagian besar wilayah Kerajaan Mataram Islam sehingga menyebabkan Rakyat mengalami penderitaan. Kemudian Amangkurat II melarikan diri ke daerah pedesaan lalu mendirikan ibu kota Kerajaan Mataram Islam baru yang diberi nama Kartasura. Amangkurat II meninggal sekitar tahun 1703 M.

Pada tahun 1755 muncul kesepakatan yang dikenal dengan nama perjanjian Giyanti. Berdasarkan perjanjian tersebut maka Kerajaan Mataram Islam dibagi menjadi dua yaitu Kesultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta.

Pecahan Kerajaan Mataram Islam dipimpin oleh raja yang berbeda. Kesultanan Ngayogyakarta diperintah oleh raja Mangkubumi yang kemudian bergelar Hamengkubuwono I sedangkan kasunanan Surakarta diperintah oleh susuhunan Pakubuwono III. Pemerintahannya pun masih berlanjut hingga saat ini. (Adhim, 2012).

DAFTAR PUSTAKA

  • Abdullah, dkk. 2012. Indonesia dalam arus sejarah: jilid 3 kedatangan dan peradaban Islam.Jakarta: PT. Ichtiar Baroe van Hoeve.
  • Asnawi, Ahmad. 2020. Kerajaan Islam Nusantara. Jawa Tengah: Desa Pustaka Indonesia.
  • Adhim, Alik Al. 2012. Kerajaan Islam di Jawa. Surabaya: JP Books.
  • Amarseto, Binuko. 2017. Ensiklopedia Kerajaan Islam di Indonesia. Yogyakarta: Relasi Inti Media.

Biodata Penulis

NamaMarisatul Khoiriyah
TTLBanyuwangi-25-09-2000
AlamatKecamatan Siliragung, Kabupaten Banyuwangi.
Emailputrimarisa149@gmail.com
StatusMahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah, Universitas Jember.