Guyana negara yang pernah terjajah 3 abad

Pada tanggal 26 Mei 1966, Guyana negara terjajah lebih dari 3 abad ini bekas daerah jajahan Inggris, menjadi sebuah negara merdeka di dalam Negara-Negara Persemakmuran dan pada tahun 1970 Guyana menjadi negara republik. Guyana terletak di pantai timurlaut Amerika Selatan. Meskipun sejarahnya sebagai negara merdeka belum lama, masa penjajahannya berlangsung lebih dari 3 abad.

Guyana tropis mencakup wilayah seluas 214.970 km2, tepat di sebelah utara garis khatulistiwa. Negara ini terletak agak ke barat dan lebih besar ketimbang negara tetangganya Guyana Prancis dan Suriname.

Ketiga negara kecil ini adalah sangat unik di benua Amerika Selatan dalam hal bahwa orang yang pertama-tama tinggal menetap di daerah ini bukanlah orang Spanyol ataupun orang Portugis, melainkan orang Belanda.

Ketiga negara ini pada mulanya disebut Guiana, kata Amerindian yang berarti ”negeri banyak air”, karena ketiga negara ini banyak dilintasi oleh anak sungai Amazon dan banyak sungai lainnya.

Kini, ketiga negara itu kadang-kadang disebut sebagai negara Guyana saja. Sungai Essequibo, Demerara, dan Berbice mengalir melalui dataran tinggi Guyana, yang tertutup hutan hujan yang lebat, dan lalu mengalir berliku-liku ke lereng melalui daerah tanah datar rendah yang sempit di sepanjang pantai.

Di tengah pegunungan tersebut terdapat banyak air terjun yang menarik, salah satu di antaranya adalah air terjun Kaieteur (setinggi 226 m) dengan kabut pelanginya yang indah. Di selatan belantara ini terdapat padang rumput Rupununi.

Yang perlu diketahui

  • Ibukota: Georgetown
  • Benua: Amerika Selatan
  • Presiden: Irfaan Ali
  • Populasi: 779.004 (2018) Bank Dunia
  • Bahasa resmi: Inggris

Sejarah Guyana

Para penjelajah bangsa Spanyol yang tiba di benua Amerika di abad ke-16 menghindari daerah rawa bakau di pantai timurlaut, tetapi orang Belanda, yang berhasil memanfaatkan tanah yang lebih rendah daripada lautnya di permulaan abad ke-17 mulai mendirikan berbagai lokasi perdagangan dan perkebunan di daerah itu dan melindunginya dengan sistem perparitan yang rapi.

Peta Guyana

Kunjungi Peta Guyana atau di google map

Tidak lama kemudian, bangsa Inggris dan Prancis memperoleh tempat berpijak di sepanjang pantai dan, selama 2 abad berikutnya, ketiga bangsa ini berganti-ganti menguasai daerah itu. Pada tahun 1814, daerah Essequibo, Demerara, dan Berbice diserahkan oleh Belanda kepada Inggris yang lalu menyatukannya menjadi Guyana Inggris.

Pohon tebu tumbuh bertebaran di tanah rendah yang subur ini, tempat yang curah hujannya adalah 230 cm setahun. Namun, orang kulit putih, karena tidak terbiasa dengan daerah tropis, banyak yang jatuh sakit sehingga banyak dari mereka terserang malaria atau demam kuning.

Orang Indian-Amerika (Amerindian) menolak untuk mengolah kebun tebu yang ditanam para penjelajah kulit putih sehingga akhirnya berubah kembali menjadi hutan hujan. Akibatnya, diimporlah ribuan buruh Afrika Barat.

Ketika perbudakan dihapus di tahun 1834, orang Afrika ini menolak bekerja di daerah perkebunan walaupun diberi upah. Akhirnya, para pengusaha perkebunan mendatangkan buruh kontrak dari daerah lain, khususnya India.

Orang India, karena sudah terbiasa mengolah padi, lalu menanam padinya sendiri dan akhirnya membentuk suatu kelas petani yang bebas. Kini, keturunan mereka berjumlah lebih dari separuh jumlah penduduk Guyana yang berjumlah sekitar 950.000 jiwa, dan merupakan kelompok politik yang terbesar.

Sepertiganya-keturunan orang Afrika-merupakan kelompok politik saingannya. Sisanya adalah orang Portugis, Cina, Eropa, Amerindian, dan keturunan campuran dari bangsa-bangsa ini. Sekitar 90% penduduknya tinggal di daerah pantai dengan Georgetown ibu kotanya dan New Amsterdam sebagai kota-kota utamanya.

Ekonomi Guyana

Guyana hidup dari pertanian dan pertambangan. Produk pertanian utamanya adalah gula dan produk sampingnya, yang dihasilkan di tanah perkebunan negara yang luas. Padi, yang pada umumnya ditanam oleh sejumlah kecil petani merupakan tanaman ekspor kedua.

Pertambangan di sekitar sungai pedalaman, di sekitar Mackenzie dan Kwakwani, merupakan ekspor utama Guyana lainnya, yaitu boksit (bijih aluminium). Guyana merupakan negara penghasil boksit keempat dunia.

Hasil tambang lainnya adalah mangan dan sejumlah kecil emas serta berlian. Hutan hujannya adalah kaya dengan kayu besi yang sangat berharga. Namun, karena kesulitan di dalam mengolah kayu di tengah belantara adalah demikian besar, maka pohon di padang hijau itu hanya sekedar ditebang dan dijual. Di Guyana juga terdapat peternakan sapi di padang rumput.

Pemerintahan Guyana

Masa transisi Guyana menjadi sebuah negara merdeka dimulai di tahun 1945 dengan diberikannya hak pemungutan suara serta konstitusi yang memberikan hak pilih bagi orang dewasa di tahun 1953. Pemilihan umum tahun 1953 dimenangkan oleh Partai Progresif Rakyat (People’s Progressive Party-PPP) yang waktu itu didukung oleh orang Afrika dan India yang dipimpin oleh Cheddi Jagan.

Setelah berbulan-bulan dilanda kekacauan, pemerintah Inggris menangguhkan konstitusi dan mendirikan pemerintahan sementara. Berkali-kali keadaan yang sama berulang: konstitusi baru, pemilihan umum baru, kemenangan oleh PPP (yang akhirnya hanya didukung oleh orang India), kericuhan dan baku-hantam antara orang Afrika dan orang India, serta campur tangan Inggris.

Pada tahun 1964, Forbes Burnham, pemimpin Partai Kongres Rakyat Nasional (yang terutama didukung oleh orang Afrika), menjadi perdana menteri dengan membentuk suatu koalisi dengan Partai Persatuan yang kecil. Pemerintahan Burnham, dengan dibantu oleh dana bantuan yang besar dari Amerika Serikat, mulai membangun jaringan jalan raya, sistem pengairan, dan berbagai sekolah.

Hari besar Islam dan Hindu dijadikan sebagai hari libur nasional, para petani India diberi bantuan lebih banyak lagi, dan berbagai langkah juga dibuat untuk menghilangkan perpecahan suku yang menganga.

Pemerintah juga menyetujui suatu undang-undang yang membolehkan orang Guyana di luar negeri untuk memberikan suaranya. Setelah Burnham meninggal di tahun 1985. dia lalu digantikan oleh pengikut setianya, Desmond Hoyte.

Meskipun dilanda kerusuhan politik serta berbagai kesulitan lainnya, seperti sengketa perbatasan yang serius dengan negara tetangganya, Venezuela, Guyana menunjukkan tanda-tanda kemajuan yang mantap. Operasi penangkapan udang yang maju merupakan sumber devisa baru.

Berbagai pabrik sedang dibangun dan tanaman pertanian lebih divariasikan, dengan bantuan khusus bagi para petani kecil. Pendapatan per kapita per tahun telah meningkat secara mencolok. Sarana wisata diperbesar dalam upayanya untuk mendapatkan devisa baru.

Sistem persekolahan, dengan bebas SPP di tingkat sekolah dasar, diperluas untuk menampung populasi yang bertambah dengan cepat, yang telah menghasilkan angka melek huruf sekitar 85%. Universitas Guyana di Georgetown, yang didirikan di tahun 1963, mulai menghasilkan sarjana di tahun 1968.

Sarana kesehatan yang meningkat dan persediaan air bersih yang semakin baik telah meningkatkan standar kesehatan. Program pembangunan jalan raya serta upaya perluasan listrik masuk desa membantu mempersatukan negara. Beberapa perusahaan asing melakukan survei mineral, kayu, dan kemungkinan pengeboran minyak lepas pantai.

Dengan kekayaan yang belum terjamah di bagian tengahnya dan dengan terbukanya berbagai kemungkinan untuk mendirikan pabrik bangunan, tampaknya Guyana telah siap menghadapi berbagai tantangan yang mengancam kemerdekaannya.

Langkah yang sangat mendesak bagi negara untuk diselesaikan adalah menyelesaikan pertikaian antar penduduk, yang nenek moyangnya dahulu datang ke tanah jajahan itu sebagai buruh, tetapi yang anak cucunya dapat memiliki sendiri tanah yang bebas.

Diulas oleh ANNE JARDIN, Deputi Perwalian Tetap Misi Guyana untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa
Editor: Sejarah Negara Com