Additional menu

Amerika Serikat – Dari jendela pesawat jet lintas benua yang sedang melanglang negeri ini akan dapat kita saksikan pemandangan bentang alam yang tidak terbayangkan oleh mereka yang melintasinya pada zaman silam. Kita cenderung membayangkan Amerika sebagai sebuah negara perkotaan, yaitu negara yang terdiri atas kota-kota besar yang dikelilingi oleh kawasan permukiman di sekitarnya.

Namun, pada perjalanan di siang hari, kita akan takjub menyaksikan masih banyaknya hutan dan pegunungan serta lahan pertanian di negeri ini. Di bawah sana terhampar ladang jagung, gandum hitam, dan gandum musim dingin-pendek kata nama padi-padian atau sayuran apa saja yang ada dalam benak kita.

Kita lihat pula kawanan sapi yang sedang merumput di padang, atau sedang berdiri sambil memamah biak di kaki gunung yang terjal di Montana. Terlintas pula di depan mata kita lembah yang landai, dengan sungai yang berkilauan ditimpa sinar surya, menyalir lahan di sekitarnya.

Sejumlah sungai berpadu dengan Sungai Mississippi yang perkasa dan mengalir ”mulus ke laut”. Di belahan bagian barat negara ini, kita terkesima oleh beribu-ribu hektar lahan taman nasional, yaitu lahan yang tak pernah tersentuh oleh bajak dan tanpa pagar, yang bakal menjadi lahan liar dan alami untuk selama-lamanya.

Terlihat pula jalur kereta api, yang mengingatkan kita kepada masa selesainya pembangunan jalur kereta api lintas benua pertama yang mempertautkan berbagai daerah yang saling berjauhan letaknya itu.

Jaringan jalan raya antarnegara bagian merupakan kreasi yang lebih mutakhir yang semakin memantapkan kesatuan negeri ini. Hanya komputer yang mampu memperkirakan berapa ribu kilometer kiranya panjang jaringan telepon yang simpang siur melintasi benua ini

Gambaran yang kita peroleh tentang negeri ini dalam perjalanan di malam hari sama sekali berlainan. Keindahan kota ini kalau kita saksikan dari udara pada malam hari sangat sulit dilukiskan dengan kata-kata, bahkan lebih sulit daripada melukiskan keindahan kilauan batu permata.

Daerah di sekeliling pedesaan tampak seperti hamparan permadani beludru hitam sehingga tidak mungkin menerka letak hutan, sungai, paya, ataupun lahan pertanian. Lalu tiba-tiba saja sang permata, yang tidak lain adalah kota itu, muncul di ufuk.

Di siang hari kota itu mungkin tampak tidak lebih dari sekumpulan pabrik-pabrik tua yang bercampur aduk dengan cerobong berasap, tetapi pada malam hari begitu ditimpa gemerlap cahaya lampu, ia berubah menjadi suatu pemandangan yang memesona.

Bila terbang lebih rendah lagi, dapat terlihat lampu-lampu jalan raya dan di sudut jalan. Jajaran rumah terkadang bersandar di lereng bukit, memancarkan cahaya lembut dari jendela ke pekarangan dan jalan setapak di depannya.

Gugus perumahan yang didirikan di tepian jalur air menyajikan gambaran bentuk lembah sungainya. Begitu pesawat terbang meninggalkan kota, serta merta akan kita saksikan gugusan cahaya lampu yang lebih kecil dan itulah berbagai kota kecil dan desa yang bertebaran di sana-sini.

Kalau sewaktu kita terbang itu malam belum begitu larut, akan kita lihat bahwa gugus-gugus itu dikaitkan satu sama lain oleh sinar lampu depan iring-iringan mobil dan truk yang berjalan di sepanjang jalan raya dan jalan penghubung antara lahan pertanian dan wilayah pemasaran.

Dengan demikian, kita akan memperoleh gambaran sebuah negara yang benar-benar telah dipersatukan oleh jaringan jalannya.

Atlas Amerika Serikat
Atlas Amerika Serikat

Kunjungi peta Amerika Serikat atau di google map

Geografi Amerika Serikat

Apakah jaringan sungai, jalur kereta api, jalan, serta kabel telepon dan telegrap itu yang membuat Amerika menjadi negara besar seperti sekarang ini? Bila demikian, berarti kita mengabaikan sebab paling mendasar bagi pertumbuhan suatu negara besar, yaitu lahannya itu sendiri.

Pemandangan yang kita saksikan dari jendela pesawat terbang itu memberi kesan tentang sebuah negara dengan tingkat kesuburan yang tiada tara, dengan kemelimpahan yang tak terperi.

Memang begitulah kesan yang diperoleh para imigran abad ke-19 yang berasal dari Jerman dan Skandinavia. Mereka begitu terkesan oleh negeri baru mereka sehingga kisah yang dikirimkan kepada sanak saudara mereka yang masih berada di negeri asal mereka, telah menimbulkan suatu gejala yang dikenal sebagai ”demam Amerika”, yang mencetuskan migrasi besar-besaran dari Dunia Lama ke Dunia Baru dan menguras penduduk desa di Eropa.

Namun, Dunia Baru ternyata tidak selalu tampak ramah. Rombongan pendatang di Plymouth, yang berjuang mempertahankan hidup melawan keganasan musim dingin daerah Massachusetts yang luar biasa itu dan mampu bertahan berkat uluran tangan orang Indian, tentunya tidak akan mengirim laporan yang menggiurkan tentang lahan baru mereka.

Begitu pula para pemukim di Jamestown, yang berjuang mempertahankan hidup mereka di tengah-tengah daerah paya sarang nyamuk malaria. Para penjelajah pertama yang menyusuri Dataran Besar melaporkan daerah itu sebagai ”tidak layak huni”.

Kenyataannya, seluruh penjuru Dunia Baru ini layak huni. Beberapa di antaranya, seperti Ohio, penggarapan lahannya lebih dari sekadar membersihkan dan menanami. Bagian-bagian lain menuntut lebih banyak upaya manusia; lahan berpaya harus disalirkan untuk mencetak lahan persawahan; di Inggris

Baru tanah yang berbatu-batu baru dapat dibajak setelah batunya berhasil disingkirkan dengan secermat-cermatnya. Daerah lainnya, seperti gurun pasir di daerah Baratdaya, terpaksa harus menunggu sampai adanya mekanisasi.

Hanya dengan berbagai sistem irigasi canggih sajalah ”gurun pasir itu dapat disulap menjadi kebun bunga”. Kesuburan memang telah terkandung di dalam tanah itu dan jadilah sejarah Amerika sejarah para petani yang berhasil menjelmakan lahan “tidak layak huni” itu menjadi hamparan kebun.

Salah satu di antara berbagai berkah yang mendukung upaya pengembangan lahan itu adalah air. Pemukim yang tinggal di sepanjang riam kecil dapat turun ke kota kecil guna menjual hasil panennya, sedangkan penduduk kota kecil itu dapat memanfaatkan sungai untuk mengangkut barang dagangan ke kota besar.

Akhirnya, sungai itu bermuara ke samudra dan dari sini bangsa Amerika mampu menjangkau Eropa, Amerika Selatan, serta berbagai negeri Timur. Di daerah sebelah timur, para pemukim perintis bergerak ke pedalaman melalui jajaran sungai Connecticut, Hudson, dan Delaware.

Tidak lama kemudian, para pemukim menyusuri jalur air yang menghantar mereka dari pesisir tenggara ke Pegunungan Appalachia. Dengan terlintasinya Pegunungan Appalachia, serta-merta seluruh bagian tengah negeri ini berhasil dibuka.

Para penjelajah diikuti oleh para petani dan pedagang-mereka ke hilir menyusuri Sungai Ohio dan Sungai Mississippi kemudian ke hulu dari Sungai Mississippi menuju ke Saint Louis, terus ke cekung Sungai Missouri. Sewaktu bergerak ke barat, para pemukim memanfaatkan jajaran Sungai Kolumbia dan Kolorado untuk menjangkau Samudra Pasifik.

Perut bumi itu pun mengandung berbagai kekayaan. Para penakluk Spanyol, yang berupaya menemukan kota-kota emas dari Florida sampai Kansas, berharap dapat menemukan keberuntungan serupa di Peru dan Meksiko.

Meskipun tidak lama kemudian orang Spanyol menjadi putus asa dan mundur teratur, kekayaan itu sebenarnya memang ada di sana, antara lain intan di Arkansas, emas di Kalifornia, dan perak di Kolorado. Orang Spanyol sama sekali tidak berhasil menemukan harta terpendam yang berkilauan itu.

Lahan itu pun mengandung berbagai kekayaan yang dapat secepatnya dimanfaatkan, antara lain batubara di Pennsylvania dan Virginia Barat, bijih besi di Minnesota, minyak di Texas dan Oklahoma, tembaga di Arizona, timbel di Missouri, kalium karbonat di Meksiko Baru, serta fosfat di Florida.

Berbagai mineral dasar inilah yang kelak melahirkan sebuah negara besar. Tanpa itu semua tidak akan ada pabrik baja di Pittsburgh, pabrik perakitan mobil di Detroit, atau pun industri petrokimia di sepanjang Terusan

Kapal Houston. Tanpa endapan raksasa pupuk alam, produksi besar-besar bahan pangan Amerika Utara, yang merupakan keajaiban dunia itu, tidak bakal terwujud.

Benua Amerika Utara juga kaya akan lahan perkayuan. Daerah pesisir Timur menghasilkan kayu keras dan kayu lunak yang cukup untuk membangun rumah bagi para pendatang baru. Jajaran kayu keras di daerah Danau Besar dan di Karolina Barat mendorong tumbuhnya industri mebel setempat.

Negara bagian Washington dan Oregon sampai sekarang masih menghasilkan kayu gergajian yang dipakai membangun perumahan di negara ini. Hutan pinus di Karolina Timur serta Hutan Pinus campuran di Texas Timur menghasilkan bubur kayu yang diproduksi menjadi kertas untuk pencetakan koran, majalah, dan buku di Amerika.

Pemanfaatan berbagai sumber alam itu bukan merupakan pekerjaan yang mudah. Hal itu menuntut ketegaran rakyatnya yang telah menjadi bagian dari pandangan Amerika, yang antara lain tercermin dalam penggunaan tongkat pemukul kayu hikori di sekolah berkelas tunggal; munculnya baseball dan sepak bola, yang memperlihatkan bahwa bangsa Amerika dapat bermain sekeras mereka bekerja; kisah kepahlawanan sheriff (polisi kota kecil) dan penjahat di daerah Barat; baku tembak antara penegak hukum dan gangster di kota besar.

Ketegaran yang memang dibutuhkan untuk menjinakkan negeri yang masih liar itu tetap merupakan ciri khas rakyat Amerika baik di masa damai maupun di masa perang.

Penduduk Amerika Serikat

Amerika Serikat telah tumbuh dari sejumlah koloni yang bertebaran di sana-sini pada abad ke-17 menjadi sebuah negara yang mencakup seluruh benua dengan jumlah penduduk lebih dari 235 juta jiwa.

Negara ini telah menggelar wilayahnya jauh ke Lingkaran Arktik sampai ke Alaska serta ke Samudra Pasifik sampai ke Hawaii. Ia telah menjadi negara pertanian, industri, dan’sekaligus berteknologi tinggi. Memang masih ada lahan pertanian yang merupakan peninggalan abad ke-19.

Peluncuran pesawat ulang alik Amerika Serikat

Namun, sebagian besar bahan pangan negara ini dihasilkan oleh berbagai perusahaan pertanian raksasa yang telah menerapkan mekanisasi yang disebut agrobisnis.

Masih ada pula sejumlah pabrik kecil yang menghasilkan produk yang sama dengan produk abad yang silam. Yang lebih khas lagi adalah pabrik-pabrik besar serba otomatis yang sebagian besar pengambilan keputusan sehari-harinya dilakukan oleh komputer, sedangkan sebagian pekerjaan aktualnya dilakukan oleh robot di sepanjang jajaran perakitannya.

Namun, rakyatlah yang sebenarnya telah menjelmakan Amerika Serikat menjadi sebuah negara besar, dan bukan komputer serta robotnya.

Sejak semula bangsa Amerika telah diuji: para pemukim pertama berupaya memapankan diri mereka di lahan kosong yang subur, tetapi acapkali kejam; para perintis menaklukkan daerah Barat; perjuangan yang terusmenerus melawan bencana alam-seperti kekeringan, banjir, topan. dan gempa bumi.

Mereka telah berhasil mengatasi kesengsaraan akibat perang yang mengerikan, yang terburuk di antaranya adalah Perang Saudara, yakni pertumpahan darah antara sesama saudara sebangsa, tetapi yang memantapkan pandangan pemimpin besar mereka Abraham Lincoln tentang Negara Serikat yang tak terpisahkan.

Rakyat telah menyaksikan perubahan negara itu dari sebuah negeri yang berdiri sendiri dan terpencil menjadi” sebuah negara adikuasa pada abad ke-20 yang terlibat dalam dua perang dunia dan dua perang besar di Asia-yakni perang Korea dan perang Vietnam.

Satu hal yang membedakan Amerika Serikat dari kebanyakan negara lain di dunia adalah kebhinekaan rakyatnya. Memang benar, berbagai negara besar seperti Uni Soviet dan India dihuni oleh penduduk asli yang terdiri atas beberapa ras yang berlainan, tetapi hanya di Amerika Serikat sajalah terdapat kebhinekaan keturunan.

Hampir tidak ada kelompok ras yang tidak diwakili dalam jumlah yang cukup besar di Amerika. Tidak mungkin kita memahami Amerika Serikat tanpa mempertimbangkan kebhinekaan penduduknya, yang justru memberikan sumbangan berupa tradisi dan kekuatan, meskipun ketegangan antara kelompok selalu menimbulkan problema yang tidak pernah dihadapi oleh negara yang penduduknya tidak begitu bhineka.

Imigran pertama Amerika Serikat

Amerika selalu dikenal sebagai negeri imigran. Para pakar sejarah lazimnya mengawali kisah tentang Amerika dengan pelayaran Columbus ke Dunia Baru, dengan koloni pertama di benua Amerika Utara, yakni Koloni Yang Hilang (Lost Colony) di Karolina Utara, Jamestown di Virginia, dan Plymouth di Massachusetts.

Namun, kira-kira 40.000 tahun sebelumnya para imigran pertama telah menjangkau benua ini. Imigran pertama itu terdiri atas pemburu binatang besar dari Asia yang menyeberangi suatu jembatan lahan yang sekarang menjadi Selat Bering, yaitu garis pemisah antara Alaska dan Siberia.

Pada waktu itu mungkin mereka berupaya memburu mammoth berbulu lebat, yaitu binatang raksasa prasejarah dari suku gajah. Mungkin mereka tetap tinggal di Alaska selama masih ada binatang raksasa itu.

Akan tetapi, begitu binatang raksasa tersebut menjadi langka dan akhirnya punah, para pemburu itu lambat-laun pindah ke selatan, memburu binatang yang lebih kecil antara lain rusa, lembu kesturi, dan kuda liar.

Akhirnya, mereka pindah lebih jauh ke selatan lagi dan menemukan kawanan kerbau yang sangat besar. Selama berabad-abad para pemburu yang berpindah-pindah ini dapat dikatakan telah menjelajah seluruh benua itu, bahkan sampai ke Amerika Selatan.

Ketika mereka berpindah ke selatan melalui daerah yang sekarang disebut Kanada dan masuk ke lahan yang sekarang adalah Amerika Serikat, mereka menemukan sebuah negeri yang jauh berbeda dengan tundra beku di lahan yang mereka temukan ketika baru tiba di Dunia Baru.

Mereka berpendapat bahwa lahan itu tentunya sangat nyaman untuk ditinggali dibandingkan dengan lahan utara yang beku itu sehingga banyak di antara kelompok pemburu nomadik itu menetap di satu daerah, meskipun kadang-kadang masih ada yang berpindah secara musiman.

Para ahli arkeologi yakin bahwa pada saat itu curah hujan di lahan gurun pasir lebih tinggi ketimbang saat ini. Beberapa di antara penduduk Indian keturunan para imigran Asia, yang dikenal setelah datangnya orang Eropa, telah mencampakkan perikehidupan seminomadik mereka dan menjadi petani.

Ada pula yang pindah ke Lahan Hutan Timur yang subur dan di sana belajar bercocok tanam serta hidup dari berburu binatang kecil dan menangkap ikan di berbagai sungai, riam, dan danau.

Suatu ketika, orang Indian belajar cara membudidayakan tanaman yang hanya ada di Dunia Baru, yaitu jagung Indian. Pada waktu rombongan pertama orang Eropa datang, jagung merupakan makanan pokok di berbagai daerah yang kini adalah Amerika Serikat.

Orang Indian menyadari pentingnya peranan kerbau dalam kehidupan mereka. Dagingnya adalah sumber pangan dan kulitnya dijadikan sandang dan kemah. Mereka mengeringkan daging yang tersisa untuk dijadikan bekal waktu mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain dan bagi cadangan di masa darurat.

Dahulu kawanan kerbau itu pernah berkeliaran di sebagian besar benua ini, bahkan sampai ke pesisir Atlantik. Namun, menjelang abad ke-15, kerbau-kerbau itu hanya terdapat di daerah Dataran Besar.

Para imigran Asia yang tiba paling belakangan-yakni mereka yang akhirnya berkembang menjadi orang Eskimo atau Aleut yang kita kenal sekarang ini-boleh jadi menyeberang kira-kira 2.500 tahun yang lalu.

Diperkirakan bahwa pada masa itu jembatan lahan tersebut telah sirna dan penyeberangan melalui Selat Bering dengan perahu merupakan pekerjaan yang lebih sulit dibandingkan dengan tantangan yang dihadapi kebanyakan kelompok pemburu dari Asia.

Dimulainya imigran Eropa

Setelah hilangnya jembatan lahan itu, yaitu 1.500 tahun kemudian, kelompok imigran berikutnya, yaitu orang Viking, mencapai Dunia Baru. Sebagai bangsa yang berasal dari Skandinavia, orang Viking memiliki jiwa petualang yang membimbing mereka mencari lahan baru.

Mereka adalah pelaut yang gagah berani. Pemunculan mereka dari utara pada sekitar tahun 1000 M, menjadikan mereka orang Eropa pertama yang diketahui telah berhasil mencapai Amerika Utara. Diperkirakan orang Viking pertama-tama mendarat di pesisir Newfoundland, Pulau Tanjung Breton, atau Nova Scotia.

Tak lama kemudian mereka menjelajahi pesisir Inggris Baru, tetapi tidak sampai mendirikan permukiman tetap. Orang Viking tidak lama bertahan di Amerika Utara dan kemudian lenyap. Imigran Eropa berikutnya yang berasal dari Dunia Lama baru tiba 500 tahun kemudian.

Mereka terdiri atas orang Spanyol yang menyeberangi Sungai Rio Grande dari Meksiko dan mendarat dengan sejumlah kapal di sepanjang kedua pesisir Florida. Tujuan mereka yang utama adalah mencari emas, intan, dan Air Mancur Keremajaan.

Harta karun yang mereka temukan di Peru dan Meksiko membuat mereka berpendapat bahwa benua Amerika Utara tentunya menyimpan harta yang lebih melimpah lagi. Mereka mendengar dan mempercayai berbagai mitos seperti mitos tentang Tujuh Kota Cibola.

Ketujuh kota itu diduga ada di suatu tempat di Baratdaya Amerika dan menyimpan harta karun yang tidak ada duanya di dunia ini. Banyak orang Spanyol yakin bahwa Air Mancur Keremajaan itu tersembunyi di semenanjung Florida. Ketujuh kota ataupun Air Mancur itu tak pernah ditemukan, tetapi banyak petualang Spanyol yang mati karena berupaya memburunya.

Tidak semua orang Spanyol itu berupaya mencari emas dan keremajaan abadi. Para pendeta Spanyol bergerak menyusup ke daerah Baratdaya untuk mengkristenkan orang Indian. Mereka mendirikan sejumlah presidio, yaitu bangunan dwiguna yang berfungsi sebagai benteng dan biara.

Para pendeta dan biarawan, yang dilindungi oleh balatentara Spanyol, berharap dapat memanfaatkan presidio itu sebagai markas besar mereka. Orang Indian yang telah berhasil dikristenkan menggarap lahan di seputar presidio, yang sekaligus mereka gunakan sebagai pos perniagaan serta tempat beribadat.

Namun, kebanyakan presidio itu tidak berhasil mewujudkan fungsinya karena terdapat terlalu banyak orang Indian yang memusuhinya, sedangkan lahannya terlalu gersang sehingga tidak mungkin dijadikan usaha tani yang berhasil.

Orang Spanyol yang berhasil meloloskan diri dari maut sebagian besar mundur ke Meksiko. Namun, mereka telah mewariskan arsitektur Spanyol yang molek di seluruh daerah antara Texas sampai Kalifornia. Pada saat ini bekas gereja. misi Spanyol itu merupakan daya tarik pariwisata terbesar di daerah Baratdaya.

Orang Spanyol tidak pernah memperlihatkan minat mereka untuk mendirikan koloni tetap di berbagai daerah yang kini dikenal sebagai Amerika Serikat.

Mereka mendirikan sebuah koloni di St. Augustine, Florida; pada tahun 1565, tetapi koloni itu terutama dimaksudkan untuk melindungi klaim mereka atas Florida terhadap ancaman Prancis dan Inggris. Di lain pihak, Inggris dan Prancis merupakan pembangun koloni besar.

Sebagian besar koloni Prancis didirikan di berbagai daerah yang kini menjadi Kanada, tetapi orang Inggris bermukim di sepanjang pesisir Atlantik mulai dari Kanada hingga Georgia.

Kehadiran Spanyol di Florida sajalah yang menghalangi mereka untuk bermukim di sana. Terdapat pula beberapa koloni yang dihuni oleh para pendatang yang berasal dari negara lain.

Orang Belanda bermukim di New York dan New Jersey, atau wilayah Dunia Baru yang biasa mereka sebut New Netherland. Orang Swedia berupaya memantapkan tempat berpijak di Delaware dan Pennsylvania, tetapi serta-merta mereka didesak keluar oleh orang Belanda dan Inggris.

Orang Belanda pun akhirnya didepak keluar dari New Netherland oleh orang Inggris dan, sesudah tahun 1664, seluruh Jazirah Atlantik dari Maine sampai Georgia dihuni oleh pemukim Inggris.

Negeri Kebebasan Beragama

Semua kaum pemukim Inggris yang datang ke Amerika berupaya untuk mencari perikehidupan yang lebih baik. Beberapa di antaranya semata-mata mencari lahan untuk bertani dan sebagai pedagang serta saudagar yang yakin akan lebih berhasil di Dunia Baru ketimbang di Dunia Lama.

Ada lagi orang yang terlilit hutang atau penjahat yang merasa dapat memulai hidup baru di Amerika dan bekerja sebagai buruh kontrakan. Mereka bekerja selama jangka waktu tertentu (biasanya 7 tahun) sebagai ganti ongkos perjalanan dan mencukupi biaya hidup mereka.

Karena murahnya lahan, biasanya mereka sudah mampu membeli lahan sendiri pada akhir masa kerja kontrakannya-suatu hal yang hampir tak mungkin mereka lakukan di Inggris.

Tidak kurang pula banyaknya warga negara Inggris yang membina hidup mereka di Dunia Baru dengan tujuan agar dapat menjalankan agama mereka sendiri. Golongan Puritan Inggris Baru terpaksa melakukan hijrah karena mereka berselisih dengan Gereja Inggris yang merupakan agama resmi.

Golongan Puritan berpendapat bahwa Gereja Anglikan masih terlalu berpegang teguh kepada sebagian besar upacara dan tata cara Gereja Katolik Roma dan, oleh sebab itu, harus ”dimurnikan”.

Ketika golongan pembaharu itu terlampau mendesakkan kehendaknya, mereka diperintahkan untuk menyerah, tetapi mereka justru bertekad untuk hijrah ke Dunia Baru ketimbang bertekuk lutut. Sama halnya, para penganut agama Katolik Roma Inggris pun merasa terkekang dalam menjalankan agama mereka.

Oleh karena itu, sewaktu Lord Baltimore, yang berganti agama menjadi penganut Katolik, memperoleh hak milik atas Maryland, daerah itu serta-merta menjadi surga bagi para penganut Katolik Inggris.

William Penn, penganut madzab Quaker, memperoleh hak milik atas Pennsylvania dan, dengan demikian, kaum Quaker Inggris pun memperoleh daerah tempat tinggal mereka sendiri. Tidak lama kemudian kaum Quaker Jerman pun bergabung dengan mereka.

Koloni-koloni Inggris yang membentang dari New York sampai ke Karolina Selatan, membuka pintu pula bagi sejumlah besar penganut Protestan Prancis, yang disebut kaum Hugenot.

Akhirnya, ketika ribuan penganut Protestan dari Irlandia Ulster dipaksa meninggalkan lahan mereka, kelompok orang Skot-Irlandia ini pun pindah ke Dunia Baru. Banyak di antara mereka yang mendarat di Pennsylvania dan banyak pula yang terus menuju ke selatan memasuki Karolina Utara. Kelompok ini kelak menghuni semua bagian daerah Selatan sampai jauh ke barat di Texas.

Imigran Paksaan

Tidak semua imigran ke Dunia Baru itu datang atas kemauan mereka sendiri. Pria dan wanita kulit hitam dari Afrika dengan keji diculik dari desa mereka oleh para pemburu budak, dijebloskan ke dalam kapal budak, lalu diangkut ke Dunia Baru.

Rombongan pertama budak kulit hitam tersebut dijual di Jamestown, Virginia, pada tahun 1619 oleh kapal pengangkut budak Belanda. Masalahnya masih belum jelas, tetapi agaknya pada saat itu mereka dianggap sebagai buruh kontrakan, yaitu golongan yang juga mencakup orang kulit putih.

Akan tetapi, tidak lama kemudian status orang kulit hitam ini berubah. Mereka dianggap oleh hukum sebagai milik para tuan yang membelinya dan anak mereka pun demikian pula.

Perbudakan merajalela di seluruh Amerika Utara, tetapi lebih banyak terdapat di berbagai koloni di sebelah selatan. Mereka dipekerjakan di perkebunan nila, padi, dan tembakau.

Kemudian, setelah kapas menjadi raja di daerah Selatan, tenaga kerja budaklah yang membuatnya menjadi tanaman yang sangat menguntungkan. Peristiwa paling menyedihkan dalam sejarah Amerika, yaitu Perang Saudara, sebagian besar tercetus karena masalah perbudakan ini.

Kaum imigran menjadi Bangsa Amerika

Tidak lama kemudian para imigran Eropa itu mulai menganggap diri mereka sendiri sebagai orang Virginia atau Inggris Baru atau pun New York meskipun semuanya masih tetap menganggap diri mereka sebagai warga negara Inggris yang sepenuhnya berhak menikmati hak-hak yang juga dinikmati oleh warga negara Inggris yang tinggal di negeri Inggris.

Tuntutan untuk memperoleh persamaan hak inilah yang mencetuskan Revolusi Amerika. Namun, bahkan setelah mereka memperoleh kemerdekaan, mereka tetap menganggap diri mereka sebagai Warga negara bagian mereka masing-masing dan bukannya sebagai bangsa Amerika.

Selama Perang Revolusi, Kongres Benua bertindak sebagai badan pemerintahan nasional bagi para patriot Amerika. Badan ini memegang kekuasaan yang diperlukan untuk mengarahkan dan memenangkan perang itu.

Undang-undang tertulis pertama dalam bidang pemerintahan nasional adalah Pasal-Pasal Konfederasi, yang disusun oleh Kongres Benua dan disetujui oleh negara-negara bagian pada tahun 1781.

Di bawah pasal-pasal tersebut, suatu tingkat kesatuan nasional telah tercapai, tetapi masih demikian besar kekuasaan yang diberikan kepada masing-masing negara bagian sehingga satu negara dalam arti yang sebenarnya belum berhasil terbentuk.

Kebutuhan akan suatu pemerintahan nasional yang kuat segera disadari. Untuk itu, Konstitusi Amerika Serikat disusun pada tahun 1787 dan mulai berlaku pada tahun 1789. Baru setelah itu rakyat mulai menganggap diri mereka sendiri sebagai bangsa Amerika, warga negara satu negara.

Tersisihnya Orang Indian

Kaum pemukim Eropa pertama yang menghuni sepanjang Pesisir Atlantik kebanyakan bersahabat dengan berbagai suku Indian yang bermukim di sana. Pada kenyataannya, tanpa bantuan orang Indian, kaum pemukim di Jamestown dan beberapa koloni di Inggris Baru tidak bakal mampu bertahan terhadap musim dingin pertama yang sangat kejam.

Mereka dengan cepat belajar dari perikehidupan Indian yang penting, termasuk cara bercocok tanam jagung Indian dan cara membuat kano dari kayu birch.

Dengan bertambahnya penduduk Eropa, hubungan dengan berbagai suku Indian mulai memburuk. Kaum pemukim Eropa telah mulai pindah ke Barat menyeberangi Pegunungan Appalachia, sebelum Revolusi Amerika. Para petani perintis bermukim di Negeri Ohio dan daerah Baratdaya Lama (sekarang Tennessee, Alabama, dan Mississippi).

Pada tahun 1803, melalui Pembelian Louisiana, Thomas Jefferson membeli seluruh bagian tengah negeri itu dari tangan Prancis. Para penjelajah, pemburu, dan penjebak binatang merupakan orang-orang Amerika pertama yang memasuki daerah itu.

Tidak lama kemudian para pemukim membanjiri daerah itu dari sebelah timur Sungai Mississippi, terutama para petani yang mencari lahan yang subur lagi murah, dan juga para saudagar, penambang, dan berbagai lapisan masyarakat lainnya.

Orang Indian menentang ekspansi ini pada setiap langkahnya. Mereka berjuang melawan pendudukan orang kulit putih ini dan, kalau akhirnya ternyata mereka mengalami kegagalan, mereka sepakat untuk berunding dengan fihak pemerintah Amerika Serikat.

Pada umumnya, perundingan itu membuahkan berbagai perjanjian yang mencakup penyerahan lahan-lahan tradisional mereka sebagai ganti wilayah yang jauh lebih ke barat.

Akhirnya, orang Indian dipaksa masuk ke berbagai lahan suaka di Barat, terutama di Oklahoma. Mereka yang menolak untuk ditempatkan di lahan suaka menjadi korban dalam serangkaian perang besar Indian pada akhir abad ke-19.

Orang Eropa membanjiri Amerika Serikat republik baru

Sebelum abad ke-18 berakhir, berbagai laporan yang menggiurkan tentang Dunia Baru mulai sampai ke Dunia Lama, dan ”demam Amerika” melanda Eropa. Pada mulanya demam itu hanya melanda orang Inggris, Wales, Skotlandia, dan Irlandia yang mencoba mengadu nasib di Amerika.

Akan tetapi, tak lama kemudian demam itu pun melanda seluruh benua Eropa. Di Prancis, rentetan peristiwa berupa Revolusi Prancis, masa Pemerintahan Teror, dan Perang Napoleon mengakibatkan banyak warga negara Prancis berpaling ke Dunia Baru. Meskipun kebanyakan di antara mereka itu bermukim di Kanada, tidak sedikit pula yang datang ke Amerika Serikat.

Gelombang kaum imigran berikutnya terdiri atas orang Jerman dan Irlandia. Pada pertengahan pertama abad ke-19, Jerman merupakan negeri yang terdiri atas berbagai kerajaan, kebangsawanan, kepangeranan, keuskupan, dan kota bebas yang kecil yang diperintah sebagai republik.

Di beberapa negara merdeka itu, Katolik Roma merupakan agama resmi; di berbagai negara lainnya, agama resminya adalah Kristen Lutheran. Bagaimana pun, penduduk yang berlainan agama dengan golongan mayoritas yang memegang kekuasaan (atau dengan raja) biasanya merasa perlu beremigrasi.

Negara yang dituju oleh kebanyakan mereka yang beremigrasi itu adalah Amerika Serikat. Di samping itu, Jerman pun sedang mengalami industrialisasi besar-besaran. Para petani Jerman terdepak dari lahan mereka dan mereka yang tidak ingin menjadi buruh di daerah perkotaan terpaksa pindah ke Amerika Serikat, apa lagi setelah mendengar tentang adanya jutaan hektar lahan yang siap menunggu kedatangan mereka itu.

Para petani Irlandia pun mulai terdepak dari lahan mereka. Dalam beberapa hal, desakan itu berasal dari para tuan tanah yang tinggal di tempat lain, biasanya para tuan tanah Inggris, yang terus-menerus menaikkan tarif sewa tanah sehingga mereka tak lagi mampu menggarap lahan mereka.

Dalam banyak hal, penyebabnya adalah karena lahan itu digarap oleh satu keluarga secara turun-temurun, tetapi para penggarap itu tidak mempunyai hak apa pun atas lahan yang digarapnya. Mereka yang mampu membayar biaya perjalanan ke Amerika Serikat, serta merta beremigrasi ke negara itu.

Rombongan orang Irlandia terbesar tiba pada tahun 1840-an sebagai akibat timbulnya paceklik kentang di Irlandia. Kentang merupakan bagian terpenting dalam menu makanan orang Irlandia dan sekaligus mer pakan tanaman budidaya terpenting di negeri itu.

Tidaklah mengherankan kalau sewaktu penyakit cacar tanaman membinasakan seluruh panen kentang pada tahun 1845 dan 1846, hal itu mengakibatkan kesengsaraan yang luar biasa. Irlandia pada saat itu merupakan bagian dari Inggris Raya dan permohonan bantuan telah diajukan pula ke London, tetapi hanya sedikit yang terpenuhi.

Ribuan penduduk Irlandia mati kelaparan. Yang bernasib mujur masih sempat melarikan diri ke Amerika Serikat, acap kali karena mereka mempunyai kerabat yang telah bermukim di sana yang membantu mereka memperoleh izin masuk dan menyediakan tempat tinggal. Sekitar 1.500.000 imigran Irlandia tiba di Amerika Serikat antara tahun 1840 dan 1860.

Abad ke-19 menyaksikan bermukrmnya ratusan ribu orang Skandinavia di Amerika Serikat. kebanyakan di lahan pertanian di daerah Barat Tengah. Orang Swedia dan Norwegia merupakan bagian terbesar di antara sejumlah kecil orang Denmark dan Finlandia.

Semua pendatang baru itu sesuai benar dengan konsep Manifesto Takdir yang sangat populer itu, yakni suatu ide bahwa orang Amerika “ditakdirkan” untuk menyebar dan menghuni benua tersebut. Manifesto Takdir itu serupa dengan konsep imperialisme yang dianut oleh berbagai negara Eropa sepanjang abad.

Bagi Amerika Serikat, ambisi imperium itu pada mulanya hanya terbatas sampai ke benua itu sendiri-yaitu dambaan untuk menyaksikan Amerika Serikat yang terbentang dari “laut ke laut yang kemilau.” Perang Meksiko merupakan penghantar ke arah terwujudnya ambisi itu.

Para pemukim dibutuhkan untuk menggarap iutaan hektar lahan itu sehingga kaum pendatang baru serta kaum imigran dari Timur berbondong-bondong membanjiri lahan itu.

Ajang Pembauran

Diawali pada tahun 1890, kaum imigran mulai datang ke Amerika dari berbagai negara. Rombongan besar kaum imigran yang datang pertama kali adalah imigran Italia.

Menjelang tahun 1930, lebih dari 4.000.000 imigran telah datang, kebanyakan di antara mereka bermukim di berbagai kota besar di daerah Timur. Kira-kira pada masa itu pula, sejumlah besar orang Eropa Timur juga mulai berdatangan.

Pada masa inilah Pulau Ellis, yang merupakan pintu gerbang di Pelabuhan New York, menjadi terkenal. Hampir semua imigran masuk melalui Stasiun Imigrasi di Pulau Ellis ini. Pada masa ini pula Patung Kemerdekaan yang menghadap Pulau Ellis itu mulai dikenal di kalangan kaum imigran sebagai lambang kemerdekaan Amerika.

Beribu-ribu kaum imigran yang berasal dari-Asia juga mulai berdatangan melalui berbagai pelabuhan di Pantai BarathRombongan pertama yang kebanyakan terdiri atas buruh Cina, mulai tiba pada pertengahan kedua abad ke-19.

Tenaga mereka sangat dibutuhkan untuk membangun jalur kereta api yang membentang melintas seluruh negeri ini. Mereka memperoleh upah yang sangat rendah dan mau bekerja keras selama berjam-jam.

Sewaktu populasi mereka mulai meningkat, berbagai kelompok imigran yang sudah lebih lama tinggal di negeri ini, seperti orang Irlandia, mulai menunjukkan rasa tidak senangnya melihat kenyataan bahwa orang Cina mulai menggerogoti lapangan pekerjaan yang semula mereka kuasai itu.

Kekerasan sering timbul terhadap apa yang kemudian dikenal sebagai buruh kuli dan, pada akhirnya, pihak Kongres memberlakukan undang-undang yang mencegah masuknya lebih banyak lagi imigran Asia ke negeri ini.

Orang Meksiko menyeberang masuk ke daerah baratdaya Amerika melalui Sungai Rio Grande. Beberapa di antara mereka datang secara berkala sebagai buruh tani, tetapi akhirnya memutuskan untuk menetap dan membawa serta keluarga mereka.

Banyak di antara imigran asal Meksiko ini yang masuk secara tidak sah dan selalu dikejar-kejar kekhawatiran dipulangkan ke Meksiko lagi sekiranya mereka sampai ketahuan.

Pembatasan Imigran

Sepanjang abad ke-18 dan ke-19, hampir setiap orang yang mampu membayar biaya angkutan kapal dapat berimigrasi ke Amerika Serikat.

Akan tetapi, karena lahan telah mulai penuh dengan penghuni dan sudah tidak ada lagi lahan kosong, dan karena semakin meruncingnya rasa tidak senang di kalangan para penduduk asli terhadap tenaga kerja imigran yang |ebih murah, timbul tekanan untuk membatasi izin masuk bagi para imigran baru ke Amerika.

Pada tahun 1921 Kongres memberlakukan undang-undang yang sangat membatasi arus masuk kaum imigran. Undang-undang itu telah diubah berkali-kali, tetapi kebijakan imigrasi sejak saat itu selalu dilandasi dalih bahwa pemerintah mempunyai hak untuk menentukan kuota orang asing dan kuota bagi masing-masing negara yang diperbolehkan bermukim di Amerika Serikat setiap tahunnya.

Dari tahun 1921 sampai tahun 1965, kaum imigran dari Eropa Utara lebih disukai daripada yang berasal dari negara lain. Pada tahun 1965 Kongres mengeluarkan undang-undang baru yang menggeser perimbangan itu. Sebagai akibatnya, semakin banyak orang Eropa Selatan, terutama orang Italia dan Yunani, yang diizinkan masuk ke negeri ini.

Problem pendatang tidak sah ini terus berkelanjutan. Orang Meksiko terus membanjir menyeberangi Rio Grande mencari pekerjaan di daerah baratdaya. Mereka disusul oleh ribuan imigran gelap dari kepulauan Hindia Barat dan Amerika Tengah serta Amerika Selatan.

Ada di antara mereka yang melarikan diri dari negara mereka karena alasan politik, tetapi kebanyakan melarikan diri dari kemiskinan dan kelebihan penduduk di negeri asal mereka.

Mereka datang ke Amerika Serikat dengan dalih yang selama ini didengungkan oleh kaum imigran, yaitu mencari pekerjaan dengan upah yang layak untuk menghidupi diri dan keluarga mereka serta untuk hidup di negeri yang menyajikan kebebasan politik dan sosial bagi mereka.

Sekarang ini, Amerika Serikat tidak dapat membuka pintunya begitu saja kepada setiap orang. Hal itu semata-mata disebabkan oleh semakin sempitnya ruang gerak yang ada padanya meskipun Amerika Serikat sejauh ini masih tetap merupakan negeri yang menjadi tumpuan harapan kebanyakan orang dari mancanegara.

Ekonomi Amerika Serikat

Selama lebih dari dua abad sejak dekade 1770-an sampai 1980-an, Amerika Serikat telah ber-evolusi darinegeri yang ekonominya bertumpu kepada pertanian menjadi negara industri paling perkasa di dunia yang oleh para pakar ekonomi disebut pasca industrialisasi yang berarti bahwa penduduk Amerika mencari nafkah di sektor perbankan dan keuangan, jasa, dan teknologi tinggi.

Akan tetapi, Amerika masih tetap merupakan produsen pangan terbesar di dunia dan produk industrinya masih tetap lebih besar dari negara mana pun.

Sebagai bagian dari Imperium Inggris, koloni-koloni di Amerika diharapkan menyediakan bahan mentah kepada Inggris Raya yang sedang mengalami proses industrialisasi besar-besaran. Begitu bahan mentah itu diubah menjadi barang manufaktur, koloni-koloni itu diharapkan membelinya dari Inggris.

Sistem ekonomi itu berjalan lancar selama abad ke-18, tetapi Amerika terlalu kaya untuk menjamin kelanggengan sistem itu sekalipun sekiranya mereka tetap menjadi bagian dari Inggris Raya.

Demikianlah, ketika koloni-koloni itu memperoleh kemerdekaan, mereka sadar akan perlunya menciptakan suatu sistem ekonomi yang baru karena pasar utama bagi bahan mentahnya, yaitu Hindia Barat Inggris, masih tertutup baginya, sedangkan mereka tidak lagi menikmati kemurahan hati Inggris yang semula dipakai mendorong mereka memproduksi barang yang dibutuhkan oleh industri Inggris.

Para pemilik kapal di Inggris Baru segera memulai perdagangan dengan Cina yang menguntungkan, dan lalu memperluas kegiatan itu sampai ke India. Di daerah Selatan, kapas menjadi komoditi ekspor utama. Pabrik tekstil Inggris mampu mengolah seluruh kapas yang diproduksi oleh daerah Selatan itu.

Amerika Serikat mengembangkan industri tekstil sendiri

Selain itu, Amerika Serikat pun mulai mengembangkan industri tekstilnya sendiri, dengan pusat utamanya di Massachusetts dan Pulau Rhode. Perdagangan dalam negeri juga menjadi suatu faktor yang penting. Dengan semakin banyaknya pemukim yang pindah ke daerah Barat, berbagai pabrik di daerah Timur semakin sibuk memenuhi kebutuhan mereka.

Suatu jaringan transportasi nasional mulai terwujud. Jaringan jalan dibangun menembus berbagai celah pegunungan dan awal abad ke-19 ditandai dengan pengembangan kapal uap serta jajaran terusan yang ekstensif.

Kapal uap yang mampu berlayar melawan arus itu mencetuskan revolusi di bidang transportasi dan perdagangan di jajaran sungai besar seperti Mississippi.

Pembangunan jajaran terusan mencapai puncaknya pada tahun 1825 dengan dibukanya Terusan Erie yang mempertautkan daerah Timur dengan Ohio serta seluruh wilayah Danau-Danau Besar (the Great Lakes). Ketika Danau-Danau Besar berhasil dipertautkan dengan Sungai Mississippi, untuk pertama kalinya sebagian besar wilayah Amerika Serikat dapat dijangkau dengan kapal.

Jajaran terusan ini telah berhasil mempertautkan seluruh negeri sampai saatnya kedudukan itu digeser oleh jaringan jalur kereta api pada akhir abad itu. Ditemukannya sumber alam yang melimpah di negeri ini berarti bakal ditandinginya ekonomi pertanian besar oleh pabrik dan industri baja.

Lahan sumber alam melimpah Amerika Serikat

Berbagai mineral dasar seperti batubara, bijih besi, timbel, dan tembaga serta mineral langka seperti emas dan perak, ditemukan dalam jumlah melimpah selama abad ke-19.

Dalam abad ke-19 dan awal abad ke-20 Amerika Serikat sudah hampir berswasembada. Para petani dan peternaknya memproduksi bahan pangan yang melampaui kebutuhan konsumsi rakyatnya.

Kapas yang ditanam di daerah Selatan dan wol yang dihasilkan oleh para petani domba di daerah barat menjamin bahan mentah bagi berbagai pabrik tekstil di Inggris Baru.

Kemudian, berbagai pabrik itu mengirimkan bahan sandang tersebut ke berbagai pabrik pakaian jadi di New York, yang menjual produknya kepada seluruh rakyat Amerika.

Batubara dari Pennsylvania dan bijih besi dari Minnesota bersama-sama menghasilkan baja dan besi yang dikirim ke Detroit untuk dijadikan mobil bagi rakyat Amerika. Minyak bumi dari Texas dan Oklahoma menyediakan bahan bakar bagi mobil-mobil itu.

Baca: Sejarah Pengeboran Minyak Di Amerika Serikat

Sebagian besar tenaga listrik yang menggerakkan roda pabrik dan menerangi rumah tangga di negeri ini diproduksi oleh generator yang digerakkan oleh air yang menggelegar terjun dari berbagai bendungan yang telah berhasil dibangun di berbagai sungai besar di negeri ini.

Simpanan para petani’dan buruh Amerika memberikan modal bagi berbagai bank untuk dipinjamkan kepada para pemiIik industri guna memperluas kegiatannya dan menjangkau berbagai pasar baru. Hanya sejumlah kecil sumber alam, terutama karet dan timah, terpaksa harus diimpor.

Akan tetapi, pemasukan yang diperoleh dari ekspor berbagai produk Amerika lainnya lebih dari cukup untuk menutup biaya impor itu.

Situasi itu mampu bertahan terhadap gebrakan yang ditimbulkan oleh dua perang dunia dan Depresi Besar tahun 1930an. Pada akhir Perang Dunia ||, Amerika Serikat muncul sebagai satu-satunya negara yang masih sehat ekonominya.

Pada saat itu, Presiden Harry Truman mengambil keputusan yang dilandasi oleh gagasan perlunya menghidupkan kembali perekonomian negara-negara Sekutu ataupun bekas seteru, demi kesejahteraan jangka panjang seluruh umat manusia.

Uni Soviet dan mitranya di Eropa Timur memilih tidak ikut ambil bagian dalam upaya itu, tetapi Jepang dan Eropa Barat, termasuk Jerman Barat, sepakat menandatangani seluruh rangkaian perjanjian di bidang ekonomi, yang terpenting di antaranya adalah Rencana Marshall. Dalam Rencana itu, Amerika Serikat memompakan dana sebesar US$ 512.000.000.000 ke Eropa.

Program serupa membantu Jepang membangkitkan kembali industrinya. Program itu telah berhasil seperti yang diharapkan oleh setiap orang. Dalam tempo sepuluh tahun seluruh sistem perekonomian telah bangkit kembali dan menjelang akhir tahun 1960-an negara-negara itu telah mampu bersaing secara efektif dengan industri Amerika.

Tahun 1970-an menyeret perekonomian Amerika ke dalam jurang krisis nyata. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, negeri ini mengkonsumsi minyak lebih banyak daripada yang diproduksinya.

Sebagian besar minyak bumi itu diimpor dari dunia Arab sehingga negara-negara Arab dan berbagai negara penghasil minyak lainnya telah berhasil menghantar harga minyak ke jenjang tertinggi yang belum pernah dialami sebelumnya.

Akibatnya adalah inflasi yang menghantam setiap segi perekonomian serta rumah tangga Amerika yang terpaksa harus mengeluarkan lebih banyak dana untuk mendapatkan bensin yang menggerakkan mobil keluarga serta bahan bakar untuk menghangatkan rumah di musim dingin.

Berbagai sektor perindustrian Amerika pun tak luput dari hantaman itu. Jutaan orang Amerika mulai membeli mobil buatan Jepang sehingga berbagai perusahaan pembuat mobil Amerika terpaksa mem-PHK-kan ribuan karyawan mereka. Industri tekstil Amerika bahkan lebih terpukul lagi oleh impor tekstil dari Jepang, Hong Kong, dan Korea.

Bahkan pabrik baja Amerika pun, yang selama ini menjadi lambang keperkasaan industri Amerika, hampir terpaksa gulung tikar karena pabrik baja Jepang dan Eropa yang lebih baru dan lebih efisien mampu memproduksi baja dengan biaya yang lebih rendah ketimbang pabrik baja Amerika yang sudah lanjut usia itu.

Di lain pihak, sektor pertanian Amerika masih merupakan keajaiban dunia. Meskipun para petani terpukul oleh tingginya biaya produksi tanaman budidaya mereka, hasil panen mereka tetap melimpah-ruah dari waktu ke waktu. Sejumlah besar gandum dan jagung dijual ke Uni Soviet, sedangkan kedelai dan kacang tanah dijual ke Jepang dan pasar Asia lainnya.

Dengan tibanya tahun 1980-an, Amerika Serikat terseret ke dalam resesi paling buruk sejak Depresi Besar. Untuk pertama kalinya sejak tahun 1930-an angka pengangguran melampaui 10%.

Namun, lepas dari segala kesuraman itu, negeri ini tidak sampai terhempas ke dalam Depresi Besar versi baru. Menjelang tahun 1984 perekonomiannya telah bangkit kembali dan semakin banyak orang yang mendapatkan pekerjaan.

Laju inflasi berhasil dikekang. Meskipun setiap orang mengakui bahwa perekonomian Amerika mempunyai berbagai titik lemah, ia masih mampu membuktikan dirinya sebagai suatu sistem yang tegar dan tahan pukulan. Di bidang teknologi tinggi yang meniadi tumpuan harapan perekonomian dunia di masa depan, Amerika tetap diakui sebagai pemukanya.

Generasi muda Amerika yang tumbuh dewasa di Amerika Serikat pada tahun 1980-an secara realistis boleh merasa optimis sebagaimana lazimnya generasi muda Amerika selama ini.

Oleh: EARL SCHENK MIERS
Penulis: Golden Book History of the United States
Editor: Sejarah Negara Com